tenggelamnya ibu peradaban

| Senin, 18 Oktober 2010 | 0 komentar |
BAGI sebagian besar orang, Atlantis adalah sebuah benua yang hilang, rumah pertama peradaban, tanah terang dan keemasan yang diterbangkan oleh serangkaian puncak kekuatan ledakan. Ia kemudian terbaring lelap di dasar samudra, dengan pucuk-pucuk pegunungannya menjulang dari alas laut. Bagi sebagian orang lagi, Atlantis lebih dipandang sebagai legenda ketimbang fakta.

Legenda itu ''dibangun'' oleh Plato, filsuf Yunani, sebagai latar belakang dua dialognya yang terkenal. Bangunan itulah yang kemudian dikembangkan para romantikus besar melalui perjalanan abad. Tapi, ada juga yang menganggap Atlantis sebagai tonggak yang nyata dari awal peradaban. Ia didokumentasikan di lokasi yang berbeda-beda, namun tetap di sekitar Samudra Atlantik.

Namun, di dalam hampir semua ensiklopedia, Atlantis tak lebih dari sebuah dongeng. Ia tak pernah dirujukkan ke dalam catatan sejarah mana pun. Tapi, ''Betapapun, para geolog dan oseanografer seolah bersetuju bahwa 'sesuatu' yang menyerupai benua pernah hadir di sekitar Atlantik,'' tulis Charles Berlitz di dalam bukunya, The Mystery of Atlantis, yang terbit pada 1976.

Misalkan pun Atlantis hanya dongeng, ia adalah dongeng yang hidup sampai masa kini. Lebih dari 5.000 buku telah ditulis tentang benua yang raib ini. ''Atlantis, sepertinya, tetap merupakan bagian dari kebudayaan kita --terserah kita percaya atau tidak,'' tulis Berlitz. ''Ia menginspirasi karya klasik, mempengaruhi sejarah, bahkan menyumbang bagi penemuan dunia baru.''

Nama Atlantis muncul dalam dua dialog yang ditulis Plato pada abad ke-4 Sebelum Masehi (SM), Timaeus dan Critias. Dialog ini bercerita tentang kunjungan Solon ke Mesir. Di negeri itu Solon menemukan, para pendeta Mesir kuno di Sais pernah menulis catatan tentang keberadaan ''sebuah pulau benua di bawah Pilar-pilar Hercules'' --nama purba untuk Gibraltar.

Negeri itu dideskripsikan sebagai jantung sebuah imperium yang besar dan menakjubkan. Penduduknya banyak, kota-kotanya beratapkan emas. Ia mempunyai armada besar dan pasukan tentara yang masif untuk melakukan invasi dan penaklukan. Lebih jauh Plato melukiskan, negeri itu lebih besar dari Libya dan Asia digabungkan jadi satu. Dan namanya adalah Atlantis.

Pulau Raksasa di Seberang Mediterania

MENURUT Plato, Atlantis tenggelam 9.000 tahun sebelum masanya. Jadi, sekitar 11.600 tahun yang silam. Di dalam Critias dinarasikan, gempa dan banjir yang kejam telah menenggelamkan benua itu hanya dalam sehari semalam. Tetapi, sejak awal ''tesis'' Plato sudah mengutubkan dua kelompok: yang percaya dan yang tidak percaya terhadap ''penemuan'' itu.

Aristoteles, bekas murid Plato yang hidup pada 384-322 SM, tercatat sebagai salah seorang pertama yang tidak percaya pada sang guru. Anehnya, dia sendiri menulis tentang sebuah pulau besar di Samudra Atlantik, yang oleh orang-orang Cathaginia disebut ''Antilia''. Pada abad ke-4 SM, Krantor, murid Plato yang lain, malah mengaku menyaksikan sisa tiang peninggalan Atlantis.

Herodotus, ahli sejarah berkebangsaan Yunani yang hidup pada abad ke-5 SM, juga meninggalkan beberapa naskah rujukan yang menyebut keberadaan kota misterius di Samudra Atlantik. Walau tidak secara eksplisit menyebut Atlantis, Herodotus menyebut nama bangsa yang memiliki kesamaan bunyi dengan Atlantis, semisal ''Atarantes'' dan ''Atalantes''.

Sebagian penulis terkemuka masa silam, yang yakin terhadap kebenaran legenda benua hilang ini, enggan menyebut nama Atlantis. Alih-alih, mereka menyebut benua itu dengan nama Poseidonis. Nama ini diambil dari nama Poseidon, Dewa Laut dan penguasa Atlantis. Plutarch, penulis yang hidup pada 46-120 Masehi, juga menceritakan adanya benua semacam Atlantis. Ia menyebutnya ''Saturnia''.

Tapi, dari ribuan karya tertulis tentang Atlantis, ada satu yang tak bisa tidak harus disebut dalam setiap perbincangan tentang Atlantis, yaitu buku Atlantis--Myths of the Antediluvian World karya Ignatius Donnelly. Jika karya Plato, Timaeus dan Critias, memperkenalkan keberadaan Atlantis, buku karya Donnelly yang terbit pada 1882 ini boleh dikata memicu ''gerakan'' pencarian Atlantis.

Donnelly percaya, pada masa lalu di Samudra Atlantik, berseberangan dengan mulut Laut Mediterania, benar-benar pernah terdapat pulau raksasa. Menurut Donnelly, deskripsi Plato tentang pulau ini sama sekali bukan dongeng, melainkan fakta yang bisa dilacak kebenarannya lewat pendekatan keilmuan. Pendekatan inilah yang membedakan buku Donnelly dengan karya tentang Atlantis yang ada sebelumnya.

Surga Dunia di Samudra Barat

YANG menarik, Donnelly berteori bahwa Atlantis adalah peradaban pertama yang dimiliki umat manusia. Atlantis pula yang merupakan kekuatan kolonial yang mengajarkan peradaban ke seluruh pesisir dan daratan di seputar Atlantik. Tak hanya berhenti di situ, Donelly mengungkapkan, Atlantis pula yang menularkan peradaban ke Mediterania, Kaukasus, Amerika Selatan dan Utara, bahkan hingga Baltik dan Asia Tengah.

Maka, sangat wajar jika dalam argumen Donnelly, seluruh mitologi yang dikenal di Mesir serta Peru adalah perwujudan dari agama bangsa Atlantis, yaitu mengabdi matahari. Aksara Phoenicia, ibu dari seluruh alfabet bangsa Eropa, juga dipandang Donnelly sebagai keturunan langsung dari aksara yang digunakan penduduk Atlantis.

Donnelly juga merujuk pada sebab-sebab alamiah untuk menjelaskan fenomena gempa bumi dan banjir besar yang menenggelamkan Atlantis. Sebagai contoh bahwa tenggelamnya sebuah daratan yang luas pernah terjadi dalam sejarah, Donnelly memadankan gempa bumi yang menenggelamkan sebagian Sisilia dan 2.000 mil persegi daratan di Lembah Indus.

Sebagian argumen ilmiah yang dikemukakan Donnelly dalam bukunya terbukti usang, sejalan dengan penemuan ilmu pengetahuan modern. Tapi, preposisi dasar yang dikemukakannya tetap menjadi asas kepercayaan para pencari dan fanatisi Atlantis --kaum yang percaya keberadaan Atlantis. Salah satunya adalah kesamaan legenda tentang sebuah surga di Samudra Atlantis, yang secara bersamaan hidup dalam mitos kuno berbagai bangsa.

Mereka yang percaya pada Atlantis memang yakin, jika benua hilang itu benar-benar ada, pastilah kenangan tentangnya hidup di benak bangsa-bangsa di kedua sisi Samudra Atlantik. Ternyata, catatan tertulis dan dongeng di berbagai bangsa seolah membenarkan keyakinan ini. Kaum Welsh, nenek moyang bangsa Inggris, misalnya, selalu menunjuk ''samudra di sebelah barat'' setiap membincangkan surga dunia.

Kaum Welsh menyebut surga itu ''Avalon''. Bangsa Babylonia juga menempatkan surga dunia mereka di ''samudra barat'', dan menamakannya ''Aralu''. Bangsa Mesir kuno menunjuk ''kediaman para jiwa'' di sebuah tempat jauh di barat, di tengah-tengah samudra. Bangsa Mesir menyebut tempat itu dengan berbagai nama: ''Aaru'' atau ''Aalu'', atau ''Amenti''.

Banjir Kiriman Dewa Hurakan

BANGSA Celtic, nenek moyang bangsa Spanyol, dan kaum Basque, juga punya tradisi yang menyebut bahwa kampung halaman mereka ada di samudra sebelah barat. Bangsa Gauls di Prancis, terutama suku bangsa di sebelah barat, punya legenda bahwa nenek moyang mereka datang mengungsi dari tengah samudra barat, sebagai akibat bencana yang menghancurkan negeri asalnya.

Suku-suku kuno di Afrika juga punya cerita dalam tradisi mereka yang menyebut adanya ''benua'' di sebelah barat Afrika. Suku-suku Afrika ini menyebut bangsa penghuni daratan itu sebagai ''Atarantes'' dan ''Atlantioi''. Sementara pada seberang lain Samudra Atlantik, di Kepulauan Canary, ada suku penghuni gua kuno yang menyebut diri ''Atalaya''. Mereka pun punya dongeng tentang tenggelamnya Atlantis.

Sementara itu, bangsa-bangsa Arab memiliki legenda tentang kaum ''Ad'' yang musnah dihancurkan banjir yang dikirim Tuhan sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Bahkan, menurut Charles Berlitz, para fanatisi Atlantis percaya adanya kemungkinan bahwa Adam (Ad-am) tidaklah merujuk pada manusia pertama, tapi ras pertama.

Di Amerika Selatan dan Amerika Utara, mayoritas suku Indian punya legenda yang menceritakan bahwa nenek moyang mereka adalah manusia super yang datang dari arah timur. Bangsa Aztec, misalnya, melestarikan nama ''Aztlan'', negeri asal nenek moyang mereka, sebagai nama suku. Quetzalcoatl, dewa kaum Aztec dan bangsa Meksiko, disebut sebagai laki-laki kulit putih yang penuh cambang.

Dewa ini, menurut legenda, datang ke Lembah Meksiko dari tengah samudra untuk mengajarkan peradaban baru. Dalam kitab suci bangsa Quiche Maya, terdapat kisah tentang negeri di timur, tempat nenek moyang kaum Quiche Maya sempat hidup dalam surga ideal ''kala kaum putih dan hitam hidup dalam perdamaian sejati'', sebelum dewa Hurakan (Hurricane) marah dan mengirimkan banjir ke bumi.

Kepercayaan, atau legenda, tentang adanya banjir besar yang memusnahkan peradaban juga menjadi alasan lain yang menyebabkan banyak orang meyakini keberadaan Atlantis. Hampir seluruh peradaban memang memiliki legenda tersendiri tentang banjir besar yang menghancurkan, yang menyisakan sebagian kecil orang yang selamat untuk melanjutkan kehidupan di tempat lain.

Piramida Bertaburan di Amerika Tengah

DALAM bentuk yang sedikit berbeda, legenda semacam ini hidup pada bangsa-bangsa Babylonia, Persia, Mesir, Yunani, Italia, Cina, India, dan hampir seluruh bangsa Asia. Legenda tentang banjir ini bahkan juga hidup di kalangan Indian Amerika. Pada banyak suku Indian, malah hidup legenda bahwa nenek moyang mereka datang dari timur, dengan kapal yang selamat dari banjir besar.

Tapi, tak hanya legenda yang membuat argumen Atlantis sebagai asal peradaban laku dipercaya. Temuan-temuan arkeologis besar sempat membuat teori ''asal tunggal peradaban'' ini makin kuat. Beberapa peradaban kuno ternyata memiliki kemiripan, padahal letak mereka begitu berjauhan. Lihat saja kemiripan antara piramida di Mesir dan piramida-piramida di belahan lain Samudra Atlantik.

Temuan arkeologis menunjukkan, betapa Amerika Tengah ternyata penuh dengan piramida. Bangsa Toltec, bangsa Aztec, bangsa Teotihuacan, dan bangsa Maya, semua memiliki piramida. Lalu, siapa yang membangun piramida-piramida itu? Apa hubungannya dengan piramida Mesir yang bentuk serta teknologinya sangat mirip?

Bangsa-bangsa yang terpisah jarak begitu jauh ini ternyata memiliki kesamaan begitu besar. ''Di Mesir terdapat piramida, di Meksiko juga ada. Tentu muncul dugaan bahwa kedua jenis piramida itu berasal dari sumber yang sama,'' kata Dr. Ken Feder, arkeolog pada Central Connecticut State University, dalam ''Atlantis Uncovered'', program spesial televisi BBC, yang ditayangkan 28 Oktober 1999.

Tak hanya itu, ilmu pengetahuan juga harus bisa menjelaskan, mengapa beberapa peradaban yang terpisah jauh itu sama-sama menulis dengan hieroglif. Juga menjelaskan, mengapa kebudayaan-kebudayaan itu bisa memiliki pemahaman astronomi dan keagamaan yang begitu mirip. Bagi Ignatius Donnelly dan pengikutnya, yang percaya pada asal-usul tunggal peradaban, jawaban pertanyaan itu jelas belaka.

Semua membuktikan bahwa Atlantis memang pernah benar-benar ada. Teori Atlantis ini memang sangat masuk akal. Dan bukan hanya kaum awam yang percaya. Kepada BBC, Dr. Ken Feder menceritakan bahwa setiap tahun, empat dari lima mahasiswa arkeologi di kelasnya percaya bahwa Atlantis kemungkinan besar memang pernah ada.

Bukti-bukti Baru Terus Bermunculan

NAMUN, secara umum, para arkeolog ternama kini tetap memandang teori Atlantis sebagai isapan jempol. Semua keraguan itu bermula dari revolusi yang terjadi pada ilmu arkeologi pada 1950-an. Pada dekade itu, ditemukannya teknologi carbon dating boleh dikata telah mengubah secara dramatis cara arkeolog memandang peninggalan masa lalu.

Dengan carbon dating, untuk pertama kalinya para arkeolog dan saintis bisa menetapkan usia pasti peninggalan arkeologis dengan menguji unsur kimiawi sampel situs itu. Hasil penelitian carbon dating ternyata menunjukkan bahwa piramida-piramida yang dipisahkan jarak di kedua sisi Samudra Atlantik itu dibangun pada masa yang tak berdekatan.

Para arkeolog juga menemukan bahwa piramida Mesir dan piramida Maya dibangun dengan cara dan teknik yang sama sekali berbeda. Adapun soal bentuk? Jawabannya --menurut para arkeolog-- sederhana saja: insinyur-insinyur pada dua peradaban itu belum mengenal teknologi kubah untuk membangun konstruksi ekstra tinggi. Bentuk piramida adalah konstruksi paling sederhana yang mereka kenal.

Jika piramida tak bisa membuktikan kebenaran teori Atlantis Donnelly, bagaimana dengan tulisan hieroglif pada kebudayaan Maya dan Mesir kuno? ''Kalau bisa membaca hieroglif Mesir kuno, apakah Anda bisa membaca sembarang hieroglif Maya? Jawabannya: tidak. Dua kebudayaan tulis itu sama sekali tak punya simbol dan teknik yang sama,'' kata Dr. Ken Feder.

Apa pun bukti dan teori yang dikemukakan para arkeolog untuk menisbikan teori Atlantis, jumlah mereka yang percaya ternyata tak pernah berkurang. Bukti-bukti baru mengenai keberadaan Atlantis pun terus bermunculan. Pada 1968, misalnya, Dr. Manson Valentine menemukan reruntuhan yang kemudian ternama dengan sebutan ''Bimini Road''.

Jalan Bimini itu adalah sejumlah tembok, fondasi, jalan, dan dermaga yang tersembunyi di kedalaman, di sebelah timur Bimini Utara. Temuan itu sekali lagi menyebabkan kontroversi keberadaan Atlantis menjadi pembicaraan ramai. Bagi para saintis penentang teori Atlantis, ''Bimini Road'' tak lebih dari sekumpulan karang dan bebatuan laut biasa.

Perdana Menteri Inggris Mencari Atlantis

TAPI, bagi mereka yang percaya, tak mungkin ada bebatuan laut yang membentuk pola-pola sedemikian rapi, dalam skala yang begitu besar. Juga, apakah mungkin ada sekumpulan bebatuan laut yang secara kebetulan memiliki bentuk semacam tiang-tiang besar sejenis di bawah permukaannya? Bagi kaum yang percaya, ditemukannya ''Bimini Road'' adalah kebenaran ramalan Edgar Cayce.

Edgar Cayce adalah seorang paranormal asal Virginia, Amerika Seriukat, dan periset fenomena-fenomena supranatural yang meninggal pada 1945. Pada masa hidupnya, Edgar Cayce telah melakukan ratusan wawancara dengan ''alam gaib'' serta amatan spiritual yang membuktikan bahwa Atlantis memang pernah benar-benar ada. Uniknya, pada 1940, Edgar Cayce telah meramalkan penemuan Jalan Bimini oleh Dr. Manson Valentine.

''Poseidia akan menjadi bagian Atlantis yang paling awal muncul ke permukaan bumi. Pada 1968 paling terlambat,'' kata Edgar Cayce. Paranormal ini juga telah menyebutkan bahwa Poseidia, bagian paling barat dari Atlantis, akan muncul di dekat Bimini. Menurut Edgar Cayce, bagian yang muncul di kedalaman 18.000 kaki di Bimini adalah titik tertinggi dari benua hilang yang tenggelam itu.

Layaknya sebuah legenda, kebenaran Atlantis boleh jadi akan selalu menjadi misteri. Yang jelas, sebagai legenda, keberadaan Atlantis telah mempengaruhi banyak figur besar dalam sejarah. Menurut Charles Berlitz, dalam The Mystery of Atlantis, Christopher Columbus pun terpengaruh oleh legenda ini. Ia termasuk tergoda mencari ''Antilia'', nama lain Atlantis, sebelum akhirnya menemukan Amerika.

Pada akhir abad ke-19, William Gladstone, Perdana Menteri Inggris pada pemerintahan Ratu Victoria, sempat secara resmi meminta parlemen menyiapkan undang-undang yang menjamin penyediaan dana bagi ekspedisi pencarian Atlantis. Namun, permintaan Gladstone itu ditolak sebagian besar anggota parlemen, yang tak bisa mengerti antusiasme perdana menteri ini.

Legenda Atlantis ternyata juga merupakan sumber ideologi Nazi. Walau jarang diungkap, kepercayaan Nazi bahwa ras Arya adalah ras paling mulia jelas-jelas didasarkan pada legenda Atlantis. Dalam dokumen-dokumen rahasia Nazi tertulis jelas bahwa Heinrich Himmler, pemimpin SS, satuan elite Nazi, pernah meminta para ilmuwan Jerman untuk membuktikan bahwa ras Arya adalah keturunan langsung dari ras super penghuni Atlantis.(matabumi.com)

pikiran yang jernih,tangan yang kotor.

| | 0 komentar |
Dengan indah telah terpajang, gambaran sebuah kesempurnaan di dalam pikiranmu. Bahkan sudah tuntas kau rancang, bagaimana bentuk dunia seharusnya. Sudah pula kau tentukan, bagaimana cerita tentang orang-orang yang kau cintai, akan bergulir.
Dan masalah kemudian muncul. Seperti ada tembok tebal, memisahkanmu dengan realita. Warna-warna mengkilap dalam lukisan itu luntur memudar. Kau coba bersikukuh, mempertahankan versi imajinatifmu tentang mereka yang tercinta, saat topengmu melorot mempertontonkan wajahmu yang bahkan kau sendiri tak pernah menyukainya.
Menggali lobang bersembunyi, menjadi makin sendiri, makin hilang, makin tercabik. Mereka yang kau cintai kini menjadi musuh-musuhmu, berbicara buruk di belakang punggungmu, memilih tak melawanmu secara terbuka, karena kau makin tak bisa berdamai dengan realita.
Tak ada peluang perubahan, bahkan angin pun tak sudi memberi harapan, sampai kau sendiri ikhlas keluar dari sarangmu yang nyaman.
Sampai kau siap merangkak keluar dari balik tembok-tembok idealisme, merangkak mundur ke dunia yang berada di seberang batas-batas hasratmu.
Sampai kau peloroti kedirianmu, egomu, menerima diri sebagai bagian dari sebuah keseluruhan. Sampai kau rontokkan sendiri tirai-tirai yang kau bangun, dan membebaskanmu tercemplung ke dalam kubangan kehidupan yang tak selalu bersih dan menyajikan rasa nyaman.
Melibatkan diri untuk tumbuh bersama semua yang hidup, kau harus rela terkotori. Berjuang, berjalan di permukaan bumi, tangan dan lututmu menyentuh tanah yang pekat, membiarkan peluh mengucur penat.
Tak ada jalan mudah untuk menciptakan keindahan yang bisa bertahan. Tak ada salahnya menjadi perfeksionis, idealis, mendamba dunia berubah, atau merasa muak dengan keadaan yang terus menghadang mata.
Tapi jika idealisme itu menghambatmu untuk terlibat sungguh-sungguh dalam kehidupanmu sendiri, maka itu sama bahayanya dengan keserakahan, sama gelapnya dengan darah yang tumpah dan mengental di medan perang.
Untuk membangun jalan takdir, ribuan pohon mimpi harus ditumbangkan. Jangan terlalu banyak tertegun dikepung tanya, membiarkan diri jadi bulan-bulanan dilema. Kadang ini bukan lagi soal benar atau salah, terbaik atau tidak, tetapi seberapa besar ego yang bisa kau sisihkan saat mengambil tindakan, seberapa penuh hatimu terlibat dalam sebuah perbuatan.
Ketika kau sudah memberikan keseluruhan dirimu, maka tak ada lagi tempat untuk tanya. Biarkan tanganmu terkotori, saat harus berkelahi dengan duniamu. Sekali lagi memilih yang terbaik itu, tentu saja baik.
Tapi terbaik tidak selalu bisa dipilih. Perang kita sekarang, di sini. Pahamilah, kita hanya sebuah bagian dari keseluruhan yang sangat besar, bahkan tanpa batas. Memikirkan takdir semesta mungkin bukan tugas kita. Buka dirimu, merasakan perih ketika digigit cahaya. Runtuhkan tembok-tembok itu, tak ada agresor yang sedang berencana menyerang bentengmu.
Tahu, mungkin saja saat ini musuhmu sesungguhnya adalah pikiranmu sendiri..??

SAHABAT PENGHIANAT

| | 0 komentar |

sahabat penghianat

Aku kecewa sahabat
Sahabat………………..
Kau hadir dalam suka dan dukaku
Dikala aku sedih kau ada
Dikala aku suka kau juga ada
Sahabat………………….
Jika kehadiranku selama ini kau anggap sampah
Jika perkataanku selama ini kau anggap luka
Maka maafkanlah aku
Tapi kau harus tau aku berusaha menjadi sahabat sejatimu
Bahkan bukan hanya sahabat aku anggap kau saudaraku
Sahabat……………………
Selama ini aku mengenali betul sifatmu
Tapi aku kerliru bahkan aku tak tau sifat aslimu
Aku , tak dapat bedakan mana kebaikanmu yang asli dan palsu
Aku hanya berpikir semuanya itu baik
Kau hebat, kau menang, aku mengaku kalah
Sahabat………………
Seandainya aku boleh meminta aku akan putar waktu ini
Aku tak ingin mengenal orang yang aku pikir baik selama ini
Menusukku dari belakang, kau beberkan kejelekanku pada orang lain
Aku juga tak menyangka ada orang yang masih baik padaku
Untuk mengingatkanku siapa sebenarnya kamu
Kau hanya hiasi kebusukanmu dengan basa-basimu
Sungguh aku tak sangka kau balas persahabatan ini dengan itu
Mungkin arti sahabat bagimu seperti itu
Sahabat………………….
Akhir – akhir ini aku banyak mengalah
Padahal kamu tahu itu bukan sifatku
Tapi demi persahabatan aku lakukan itu
Aku mencoba tak percaya omongan orang
Tapi hari demi hari aku muak dengan sifat dan tingkahmu
Yang membuat aku percaya semua itu
Sahabat………………..
Aku salut dengan actingmu selama ini
Aku pikir kau bijaksana
Terrnyata benar kau bijaksana sekali
Sampai bijaksana dalam hal membohongi
Sahabat………………….
Aku baru tau bahwa kau baik padaku ada yang kau butuh dariku
Setelah kau tak butuhkanku kau tunjukan sifat aslimu
Sekali lagi kau hebat, hebat sunggguh hebat
Sahabat ……………………
Aku tak pernah menyesal kenal denganmu
Karena aku bisa belajar sifat sifat seperti itu
Aku tetap berterima kasih padamu atas kebaikanmu selama ini walau itu palsu
Aku berharap dan berdoa ini terakhir kalinya aku punya sahabat palsu
Sahabat …………………
Aku hanya bisa berdoa semoga kebaikanmu yang asli dibalas yang maha kuasa
Dan kebaikanmu yang palsu dihapus dosanya.
Sahabat …………………..
Tapi kamu harus tau satu hal dalam diriku
Bahwa aku tidak pernah bisa membencimu
Dan aku juga tulus bersahabat denganmu
Aku akan senantiasa membantumu selama aku mampu
Maafkanku jika selama ini membuatmu terpaksa baik padaku
Sekali lagi aku minta maaf (kemudian.com)

SEJARAH JUVENTUS

| Kamis, 14 Oktober 2010 | 0 komentar |
Juventus didirikan dengan nama Sport Club Juventus pada pertengahan tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D’Azeglio Lyceum di Turin, tetapi kemudian berubah nama menjadi Foot-Ball Club Juventus dua tahun kemudian. Klub ini bergabung dengan Kejuaraan Sepakbola Italia pada tahun 1900. Dalam periode itu, tim ini menggunakan pakaian warna pink dan celana hitam. Juve memenangi gelar Serie-A perdananya pada 1905, ketika mereka bermain di stadion Velodromo Umberto I. Di sana klub ini berubah warna pakaian menjadi hitam putih, terinspirasi dari klub Inggris Notts County.
Pioneer Juventus, 1988
Pada 1906, beberapa pemain Juve secara mendadak menginginkan agar Juve keluar dari Turin. Presiden Juve saat itu, Alfredo Dick kesal dan ia memutuskan hengkang untuk kemudian membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang kemudian menjadikan Juve vs. Torino sebagai Derby della Mole. Juventus sendiri ternyata tetap eksis walaupun ada perpecahan, bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.
- Raja Italia

Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli mengambil alih kendali Juventus pada 1923, dimana kemudian ia membangun stadion baru.[2] Hal ini memberikan semangat baru untuk Juventus, dimana pada musim 1925-26, mereka berhasil menjadi scudetto dengan mengalahkan Alba Roma dengan agregat 12-1. Pada era 1930-an, klub ini menjadi klub super di Italia dengan memenangi gelar lima kali berturut-turut dari 1930 sampai 1935, dibawah asuhan pelatin Carlo Carcano[20], dan beberapa pemain bintang seperti Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti.
Juventus FC in 1903
Juventus kemudian pindah kandang ke Stadio Comunale, tetapi di akhir 1930-an dan di awal 1940-an mereka gagal merajai Italia. Bahkan mereka harus mengakui tim sekota mereka, A.C. Torino.
Setelah Perang Dunia II, Gianni Agnelli diangkat menjadi presiden kehormatan. Klub ini lantas menambah dua gelar Serie-A pada 1949–50 dan 1951–52, dibawah kepelatihan orang Inggris, Jesse Carver.
Dua striker baru dikontrak pada musim 1957–58; seorang Wales bernama John Charles dan blasteran Italia-Argentina Omar Sivori, yang bermain bersama punggawa lama seperti Giampiero Boniperti. Musim ini, Juve kembali berjaya di Serie-A, dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan bintang kehormatan karena telah memenangi 10 gelar Liga Serie-A. Di musim yang sama, Omar Sivori terpilih menjadi pemain Juventus pertama yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa. Juve juga berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final. Boniperti pensiun di 1961 sebagai top skorer terbaik Juventus sepanjang masa dengan 182 gol di semua kompetisi yang ia ikuti bersama Juventus.
Di era 1960-an, Juve hanya sekali memenangi Serie-A yaitu di musim 1966–67. Tetapi pada era 1970-an, Juve kembali menemukan jatidirinya sebagai klub terbaik Italia. Di bawah kepelatihan mantan pemain Juve Čestmír Vycpálek, Juve berhasil menambah dua gelar Serie-A pada musim 1971–72 dan 1972–73, dengan pemain bintang seperti Roberto Bettega, Franco Causio dan José Altafini. Selanjutnya mereka berhasil menambah dua gelar lagi bersama defender Gaetano Scirea. Dan dengan masuknya pelatih hebat bernama Giovanni Trapattoni, Juve berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.
- Merajai Eropa
Era tangan dingin Trapattoni benar-benar membuat Serie-A porak poranda di 1980-an. Juve sangat perkasa di era tersebut, dengan tiga gelar Serie-A empat kali di era tersebut. Puncaknya adalah pada 1982 dimana Juve menjadi klub Serie-A pertama yang berhasil memenangi Serie-A sebanyak 20 kali, dan itu berarti mereka boleh menambah tanda bintang di kausnya satu kali lagi. Paolo Rossi, salah satu pemain Juve bahkan terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia 1982.
Michel Platini in 1987
Setelah Rossi, pria Perancis bernama Michel Platini secara mengejutkan berhasil menjadi pemain Eropa tiga kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun berurutan. Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibat kerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun. Dia khir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan. Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990
(http://anjarherosasmiko.wordpress.com/2010/09/07/sejarah-juventus/) 

ASAL USUL ORANG MELAYU

| | 1 komentar |
Kalimantan Tanah Melayu
(Melacak Asal Usul Orang Melayu)

Oleh Setia Budhi

Ini mungkin sebagai pernyataan yang tampak agak
mengejutkan bahwa orang melayu sebenarnya berasal dari
Kalimantan atau Borneo. Bagaimana pernyataan itu
didapat dan dengan cara apa untuk membuktikan bahwa
orang Melayu itu asal muasalnya adalah dari pulau
Kalimantan? Inilah yang kini terus dilacak oleh para
ahli dari berbagai disiplin keilmuan.

Beberapa pakar geologi menyebutkan bahwa kepulauan
nusantara purba sesungguhnya adalah sebuah gugusan,
baru sesudah berlangsungnya tragika dimana keadaan
bumi kemudian mengalami pergeseran patahan melalalui
laut dan pegunungan, nusantara terpecah kedalam
lempengan gugusan yang membentuk pulau-pulai kecil.
Istilah Nusantara (Nusa dan Antara) dalam hal ini
menyangkut gugusan pulau dan laut Asia bagian
Tenggara.

Kini para ahli mulai menemukan bahwa berdasarkan
kaedah ilmu linguistik serta dengan memanfaatkan ilmu
arkeologi ada banyak persamaan yang muncul diantara
pengguna bahasa di kawasan nusantara dan kawasan lain
seperti Philipina, Thailand, Malaysia dan Brunei.

Bernd Notherfer (1996) misalnya menyebutkan bahwa
dengan melihat adanya keanekaragaman bahasa Melayik
yang sangat tinggi yang terdapat di pulau Borneo
bagian barat, maka disimpulkan bahwa pulau Borneo
harus diakui sebagai tanah asal usul bahasa Melayu.

Menemukan bukti

Menurut Benrd untuk membuktikan hipotesis bahwa
Kalimantan sebagai tanah asal usul bahasa Melayu dapat
dilihat dengan 3 (tiga) varian pelacak. Pertama adalah
dengan melihat dialek pemakaian bahasa, Kedua dengan
mengamati keberlangsungan dari unsur bahasa purba yang
masih dipertahankan dan Ketiga adalah melihat adanya
unsur keanekaragaman (highest order of diversity),
bahwa tanah asal usul suatu keluarga terletak pada
daerah yang logat bahasanya paling beraneka.

Pembuktian lain yang dipakai untuk melakukan pelacakan
asal muasal orang Melayu adalah dengan mengamati pola
migrasi orang Melayu Purba dari tanah asal usulnya
yang melakukan persebaran ke berbagai wilayah baik
secara serentak maupun migrasi secara
berangsur-angsur.

Pelacakan pola migrasi orang Melayu di Thailand
Selatan (Urak Lawai Malai), orang Melayu di Philipina
Selatan (Mindanao) atau lebih kecil lagi bagaimana
pola migrasi orang Melayu Banjar ke wilayah Tembilahan
masa sebelum kolonial.

Bahasa Melayu Purba

Bernd Notherfer memulai kajiannya yang penting dengan
menganalisis isolek, dialek para penutur bahasa dengan
meminjam Adelaar (1992) yang disebut ‘Bahasa Melayik
Purba’ yang menurutnya termasuk dalam subkelompok
bahasa Austronesia seperti dialek Iban, Sambas,
Sarawak, Brunai, Berau, Kutai, Banjar, Ketapang,
Bangka, Minangkabau, Jambi, Melayu Baku dan Jakarta.

Dengan menggunakan pendekatan keanekaragaman pemakai
dialek yang tinggi, ternyata di bagian Kalimantan
Barat terdapat perbedaan antara satu dengan yang lain
seperti daerah Sarawak, Sambas., Iban, Selako dan
Kendayan sehingga daerah dapat disebut sebagai asal
usul orang Melayu. Pendapat ini didukung pula oleh
Blust (1988) dan Adelaar (1992). Adelaar bahkan
menolak hipotesis bahwa tanah asal usul orang Melayu
terletak di Semenanjung Melayu.

Penting juga untuk diuraikan beberapa contoh
penggunaan bahasa atau kata yang terdapat di beberapa
pengguna bahasa di kawasan yang berbeda. Beberapa kata
yang mempunyai arti yang sama meskipun dalam
pengucapan, intonasi, dialek mengalami perbedaan.
Penggunaan kata Gagap misalnya ditemukan di Sarawak,
Iban, Brunei, Berau dan Banjar yang artinya
meraba-raba. Kata Lanji juga dipakai di Sarawak, Iban,
Brunei, Berau dan Banjar yang artinya berhubungan
dengan kelakuan perempuan yang tidak sopan. Kata
Linggar juga dipakai di Serawak, Iban, Brunei, Berau
dan Banjar yang artinya mudah oleng. Kata Dudi,
pemakaiannya ada di daerah Serawak, Iban, Selako,
Katepang, Berau, Kota Bangun dan Banjar yang artinya
kemudian ( Banjar : "ulun handak tulak haji baimbai
umanya Aluh tahun dudi.").

Ada banyak contoh pemakaian kata yang sama dan hampir
sama dengan pembunyian yang sama pula ditemukan di
berbagai titik pemakaian bahasa yang menunjukkan bahwa
kemungkinan besar pada masa silam para penutur itu
adalah berasal dari "juriat" yang sama atau merupakan
sebuah rumpun pemakai bahasa yang sama.

Saya tidak hendak melanjutkan cerita ini dari aspek
bahasa yang terlampau rumit kedalam kaidah ilmu
bahasa, sebab ini jelas bukan bidang kajian maupun
spesialisasi. Tulisan ini tak hendak menebar garam
dalam lautan, karena boleh jadi akan sangat penting
apabila ianya dibahas oleh para ahli bahasa di daerah
ini.

Akan tetapi yang hendak disampaikan dalam kontek ini
adalah pada bagaimana politik kebahasaan nusantara ini
dalam perspektif kontemporer.

Politik kebahasaan yang dimaksud adalah sepertinya ada
kekuatan besar yang mencoba untuk menenggelamkan
aspek-aspek lokalitas yang sesungguhnya sudah menjadi
sejarah purba bahasa orang Malayu.

Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila muatan lokal
yang kini mulai bangkit di sekolah-sekolah mendapat
dukungan semua pihak, seperti misalnya memperbanyak
aspek-aspek keanakeragaman dalam pemakaian bahasa
Melayu asli. Dalam kontek Kalimantan Selatan, tentu
saja yang dimaksud adalah dukungan terhadap bahasa
Banjar yang merupakan bagian dari bahasa Melayu.

Seberapa kuat bahasa lokal mampu bertahan ditengah
datangnya "wabah bahasa" yang selumnya tidak pernah
ada dalam khasanah kosa kata Melayu ? Meskipun harus
dipahami bahwa tidaklah mungkin bahasa Melayu tidak
menyerap unsur bahasa luarnya, tetapi membiarkan
bahasa Melayu menjadi sirna oleh penggunaan bahasa
yang tidak bertanggungjawab, marupakan hal yang
sia-sia, terutama bahasa yang dipakai oleh gerenasi
muda.

Bahasa Dayak = Melayu Purba?

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat diskusi di
perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang
mempunyai koleksi lebih dari tiga juta buku yang
berada pada lima lantai. Perpustakaan yang terbesar di
Asia Tenggara. Teman duskusi saya itu berasal dari
salah satu suku Dayak di Kalimantan Barat. Saya sangat
respon bukan karena saya dan teman itu berawal dari
faktor ke-dayak-an, tetapi lebih karena adanya minat
yang sama untuk melakukan penelitian tentang etnik
Dayak. Saya sedang meneliti etnik Dayak Bakumpai dari
aspek politik identitasnya sementara teman saya itu
meneliti etnik Dayak dati aspek bahasanya.

Diluar dugaan, bahwa bahasa Dayak Bakumpai saya
ternyata banyak persamaan dengan Bahasa Dayak yang dia
gunakan di Kalimantan Barat itu dalam percakapan
sehari hari.

Sekedar contoh persamaan kata antara bahasa etnik
Bakumpai dengan etnik Dayak (maaf saya tidak dapat
menyebutkan dari etnik Dayak mana) teman saya di
Kalimantan Barat itu. Kata Panganen sama artinya ular
sawa, Silu artinya kuku, Paii artinya kaki, Mate
artinya Mata, Behas artinya Beras, Danum artinya air.

Saya terperanjat dengan persamaan bahasa itu lalu
menghubungkanya dengan pernyataan Bernd yang ahli
bahasa diatas dan kemudian mempertanyakan, kalau
demikian halnya siapakah yang disebut manusia Melayu
Purba itu. Kalau Bernd menyebut Melayu Purba itu
datang dari pulau Kalimantan, maka pertanyaan
selanjutnya tentu saja adalah siapakah penghuni pulai
Kalimantan itu untuk pertama kalinya yang disebut
bangsa Melayu Purba (Apakah suku Iban, suku Murut,
suku Meratus, suku Siang, suku Bakumpai, suku Banjar
dan suku-suku lain).

Kembali pada topik tulisan ini bahwa temuan para ahli
terhadap semacam "mata yang rantai" asal usul bahasa
Melayu dan mungkin juga cikal bakal orang Melayu,
menjadi sangat berguna untuk kajian pelbagai disiplin
ilmu. Tetapi menjadi penting sekarang adalah bahwa
pemakaian bahasa Melayu seharusnya menjadi identitas
yang semakin mengekalkan diantara penggunanya, tidak
hanya pada lembaga pendidikan, tetapi juga lembaga
masayarakat.

Bahasa Melayu yang dimaksudkan dalam tulisan itu tentu
saja adalah bahasa Melayu yang kini diajarkan di
sekolah dan menjadi bahasa pengantar sehari-hari yaitu
bahasa Indonesia yang sebenarnya ruh dan jiwanya
berasal dari bahasa Melayu.

Setia Budhi
Pengajar Pada Fisip Unlam Banjarmasin
SUMBER : http://www.forumsatelit.com/index.php?topic=561.20;wap2

ASAL MULA KATA KELENTENG

| | 0 komentar |
Asal Mula kata Kelenteng
MASA Dinasti Tang (618-907) China berhasil mengirim ekspedisi militernya ke daerah China Selatan. Sejak itu orang China mulai menyebar ke Asia Tenggara dan banyak yang terus menetap. Diantara mereka banyak sekali orang-orang Hoakio/Hokkian yang berasal dari daerah-daerah yang terletak di sekitar Amoy di propinsi Fukien (Fujian) dan orang-orang Kwang Fu (Kanton) yang berasal dari Kanton dan Makao di propinsi Kwangtung (Guangdong).
Pada masa Dinasti Sung (907- 1127) mulai banyak pedagang-pedagang China yang datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa teh, barang porselin China yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan. Sedangkan mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia.
Dalam sejarah China Kuno, dikatakan bahwa orang-orang China mulai merantau ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang. Daerah pertama yang didatangi adalah Palembang yang pada waktu itu merupakan pusat perdagangan kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka datang ke Pulau Jawa untuk mencari rempah-rempah. Banyak dari mereka yang kemudian menetap di daerah pelabuhan pantai utara Jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten dan Jakarta.
Orang China datang ke Indonesia dengan membawa serta kebudayaannya, termasuk pula unsur agamannya. Dengan demikian, kebudayaan China menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.
Di dalam masyarakat China dikenal adanya tiga agama yaitu Khong Hu Cu, Tao dan Buddha. Akan tetapi dalam prakteknya tidak pernah ada fanatisme terhadap salah satu dari tiga agama tersebut. Dengan kata lain dalam prakteknya ketiga agama tersebut dilakukan bersamaan.
Gabungan ketiga agama tersebut dikenal dengan nama Tridharma. Campuran ketiga agama tersebut dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan latar belakang orang China di Asia Tenggara. Para leluhur mereka datang dari Cina Selatan dimana ketiga agama itu diterima sebagai satu kepercayaan.
Demikian pula halnya dengan orang China. Mereka juga memiliki tempat ibadah yang dinamakan Kelenteng.
Evelin Lip, salah satu arsitektur China, menyatakan bahwa masyarakat China yang ingin mendirikan sebuah bangunan suci biasanya akan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di China. Aturan-aturan tersebut adalah bahwa suatu bangunan suci biasanya didirikan diatas podium, dikelilingi oleh pagar keliling, mempunyai keletakan simetris, mempunyai atap dengan arsitektur China, sistim strukturnya terdiri dari tiang dan balok serta motif dekoratif untuk memperindah bangunan. Satu hal lagi yang tidak dapat dilupakan masyarakat China dalam pencarian lokasi adalah berpedoman pada Hong Sui (Feng Sui). Dengan berpedoman pada Feng Sui ini diharapkan akan memberikan keberuntungan pada penghuninya.
Selain itu juga Lip mengatakan bahwa Kelenteng-kelenteng di China Utara berukuran lebih besar dan hiasannya sangat sedikit dibandingkan dengan yang ada di China Selatan dimana kelentengnya mempunyai banyak hiasan.
Bumbungan atapnya dihiasi dengan motif naga, burung phoenix, ikan, mutiara atau pagoda dan ujung bumbungannya melengkung ke atas. Ciri arsitektural seperti inilah yang dibawa ke Singapore dan Malaysia oleh para perantau dan Pedagang China.
Dari mana asal mula kata Kelenteng.
Ada dua versi tentang asal mula kata Kelenteng.
Banyak dari kita yang mengira kata Kelenteng adalah istilah luar. Tetapi sebenarnya kata Kelenteng hanya dapat ditemui di Indonesia. Kalau ditilik kebiasaan orang Indonesia yang sering memberi nama kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan - seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek - demikian pula halnya dengan Kelenteng. Ketika di Kelenteng diadakan upacara keagamaan, sering digunakan genta yang apabila dipukul akan berbunyi 'klinting' sedang genta besar berbunyi 'klenteng'. Maka bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari tempat ibadat orang China dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut. (Moertiko hal.97)
Versi lain menurut 'Kronik Tionghoa di Batavia', disebutkan bahwa sekitar tahun 1650, Letnan Tionghoa, Guo Xun-guan mendirikan sebuah tempat ibadah untuk menghormati Guan yin di Glodok. Guan yin adalah Dewi welas asih Buddha yang lazim dikenal sebagai Kwan Im. Pada abad ke-17 waktu umat kristen Jepang dianiaya, patung Dewi Kwan Im menggantikan patung Bunda Maria untuk menyesatkan mata-mata polisi Jepang. Tempat ibadah di Glodok itu disebut Guan yin Ting atau tempat ibadah Dewi Guan yin (Kwan Im). Kata Tionghoa Yin-Ting ini disebut dalam kata Indonesia menjadi Klen-Teng, yang kini menjadi lazim bagi semua tempat ibadah Tionghoa di Indonesia. (Heuken hal.181)
SUMBER : http://disbudpar.kalbarprov.go.id/istana/193-asal-mula-kata-kelenteng.html          

Warna-warni Suku Dayak Kalimantan

| | 0 komentar |



Kalimantan luasnya hampir 750.000 km, jarak rentangnya lebih dari 1.300 km. Kalimantan bagian integral Republik Indonesia, merupakan elemen dari keanekaragaman menjadi image Indonesia sebagai negara besar, multi bangsa dan budaya.
Saat ini dalam kepulauan Kalimantan sendiri terdapat pula Sarawak dan Sabah sebagai bagian negara Malaysia serta Kesultanan Brunei Darussalam. Dalam pulau Kalimantan juga terdapat empat propinsi di Indonesia, Kalimantan Barat dengan ibu kota Pontianak, Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangka Raya, Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda dan Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin. Setiap provinsi ada suku Dayaknya.
Sebagai bagian integral Republik Indonesia, setiap daerah memiliki kekhasan dalam adat dan budaya. Demikian pula Kalimantan yang dipercaya sebagai tanah air suku Dayak sebagai penduduk asli, selain Melayu dan Cina yang juga memeliki sejarah panjang di daerah ini.
Suku Dayak adalah penguasa Kalimantan dan merupakan kelompok etnik yang memiliki ke-khasan adat dan istiadat serta benda-benda seni hasil kerajinan.
Salah satu situs yang masih dapat ditemui, hingga kini sebagai unsur kebesaran budaya itu adalah Rumah Panyang atau Rumah Panjang. Rumah panjang, tempat tinggal masyarakat Dayak secara umum (ada kelompok yang tidak). Terdiri dari bangunan kayu sepanjang 200 meter (relatif dan berbeda setiap sub suku). Terdiri dari bilik dan ruang serta serambi dimana satu komunitas masyarakat (berasal dari satu keturunan), hidup dan berkembang. Dalam penulisan kali ini, akan dibahas satu Rumah Panjang yang terletak di desa Saham kecamatan Sengah Temila kabupaten Landak (137 km dari utara kota Pontianak serta ±11 Km dari ibukota kecamatan).
Desa Saham terdiri dari satu rumah panjang dan rumah-rumah tunggal yang mengikuti pola masa kini. Sebelumnya seluruh penduduk tinggal di satu rumah panjang sebagai satu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat Dayak, Rumah panjang bukan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun juga sebagai pusat perkembangan budaya serta tradisi.
Sebagai peninggalan budaya Dayak Kanayatan, rumah panjang di Saham layak dijadikan objek pariwisata. Faktor-faktor pendukungnya, kegiatan budaya, kesenian, adat-istiadat, kehidupan religi, pertanian, mata pencaharian, kehidupan bermasyarakat. Sebagai pusat kebudayaan rumah panjang merupakan pusat lahirnya jenis-jenis kesenian, berkaitan langsung dengan adat istiadat dalam bentuk upacara-upacara.
Masyarakat Dayak selalu menandai setiap peristiwa dalam kehidupan dengan upacara. Dalam kondisi ini lahir tarian, musik, seniukir, senitato, senimenganyam, tenun, tata boga dan sebagainya. Contoh upacara mengawali dan mengakhiri proses perladangan. Sebelum musim tanam dimulai, dilakukan upacara untuk memberkati seluruh peralatan yang digunakan dalam pertanian, dengan upacara adat untuk mendapat restu dari roh leluhur serta Jubata (Yang Maha Tinggi). Seluruh rangkaian proses pertanian, ditutup dengan upacara memanjatkan syukur (Naik Dango). Diupacara ini biasanya masyarakat Dayak di rumah panjang Saham, tampil dengan busana adat terbaik, perhiasan, tari, musi, makanan-makanan dan minuman khas tradisi Dayak.
Seluruh rangkaian upacara masih dapat ditemui pada rumah Panjang Saham.
Berbagai Dampak
Duku Dayak tidak terlepas dari pengaruh modernisasi serta penyeragaman dalam identitas baru, kebudayaan Indonesia. Masuknya media elektronik seperti televisi, parabola, membawa siaran membuka wawasan mereka tentang kehidupan baru yang menawarkan perubahan-perubahan. Perubahan cenderung lebih banyak bertentangan dengan adat istiadat serta norma dan keteguhan terhadap tradisi. Seperti maraknya perjudian dibawa oleh pendatang sebagai usaha memeriahkan pesta adat.
Semakin luasnya wawasan masyarakat Dayak terutama dalam masalah ekonomi yang individualistik, banyak benda atau situs-situs bersejarah dijual demi kepentingan pribadi. Gaya hiburan baru yang diadaptasi dari media elektronik, mengenyampingkan pemahaman serta kecintaan generasi muda Dayak terhadap senitradisi dan adat istiadat.
Pemerintah daerah telah melakukan pembinaan, namun yang terjadi pembinaan yang tidak berakar dan agak melenceng dari konteks ritual adat.
Keberadaan Pariwisata, menampilkan upacara adat dan kesenian tradisi di rumah panjang Saham, memberi dampak positif bagi masyarakat Dayak serta kelangsungan tradisinya. Berkembangnya kepariwisataan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk terus menyelengarakan serta memelihara adat dan tradisinya sebagai komoditas pariwisata. Meningkatnya jumlah wisatawan yang datang, meningkatkan pendapatan ekonomis serta melahirkan kesadaran baru. Masyarakat memiliki nilai jual yang layak ditampilkan. Kesadaran itu memacu masyarakat untuk mempelajari, menggali, serta melestarikan tradisi yang mereka miliki.
Lebih Dekat Suku Dayak
Dayak, salah satu suku, memiliki serta menjaga kelestarian dan kearifan budaya lokal yang dimilikinya. Bentuk identitas dari suku dayak, ukirannya khas, yang hanya dimiliki oleh suku dayak saja. Selain itu, dalam budaya suku dayak, patung juga memiliki peran tidak kalah pentingnya. Bagi sebagian suku dayak, patung dan beberapa benda seni menjadi khas suku, memiliki makna tersendiri.
Fungsi Patung Bagi Suku Dayak
Dayak mengenal seni pahat patung yang berfungsi sebagai ajimat, kelengkapan upacara atau sebagai alat upacara. Patung sebagai ajimat terbuat dari berbagai jenis kayu yang dianggap berkhasiat untuk menolak penyakit atau mengembalikan semangat orang yang sakit.
Patung-patung kecil untuk kelengkapan upacara, biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat seperti pelas tahun, kuangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil ini terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, bambu hingga tepung ketan.
Patung sebagai alat upacara contohnya patung blontang terbuat dari kayu ulin. Tinggi patung antara 2-4 meter dan dasarnya ditancapkan kedalam tanah sedalam 1 meter.
Suku Dayak memiliki pola-pola atau motif-motif unik dalam setiap pahatan mereka. Umumnya mereka mengambil pola dari bentuk-bentuk alam seperti tumbuhan, binatang serta bentuk-bentuk yang mereka percaya sebagai roh dari dewa-dewa, misalnya Naang Brang, Pen Lih, Deing Wung Loh dan sebagainya. Karena seringnya kata pamanda diucapkan dalam setiap pementasan, istilah pin menjadi julukan bagi seni pertunjukan itu sendiri.
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan, hidup berkelompok. Mereka tinggal di pedalaman, di gunung dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah Menteng Ueh Mamut, berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
Asal kata Dayak, hingga sekarang orang masih berbeda pendapat. Ada yang menyebutnya berasal dari kata ‘Daya’, dalam bahasa Kenyah berarti hulu sungai atau pedalaman. Ada juga –terutama orang luar Dayak pada abad lalu- mengartikannya sebagai head hunters atau pengayau. Itu dimungkinkan karena tradisi masa lalu mereka yang suka berperang antarsuku, dengan memenggal kepala musuhnya sebagai perlambang penaklukan sekaligus juga ‘teman’ (bagi mereka, kepala musuh yang sudah dipenggal, bisa juga diartikan sebagai teman, karena selain bisa pelindung mereka dari roh-roh jahat, juga bisa membawa berkah atau rejeki).
Sebuah penelitian, disebutkan, pada mulanya suku Dayak berasal dari Provinsi Yunan, sebuah daerah di selatan China (Mainland). Kemudian bermukim di Apo Kayan, daerah Long Nawan sekarang, dekat perbatasan dengan Malaysia. Kapan datangnya, tidak seorang pun tahu –karena kebudayaan Dayak tidak meninggalkan catatan-catatan tertulis.
Mereka menyebar ke seluruh pelosok Kalimantan, terutama di sepanjang aliran sungainya. Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan, disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis. Mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau (Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan "Ancak atau Kalangkang").
Warna-warni dan pernak-pernik mereka sangat khas. Pakaian adat dan pakaian tari mereka penuh aneka khas dan kontras, membuat indah.
Dikutip dari berbagai sumber

Spanduk "Israeli Murderer" Sambut Tim Kesebelasan Israel di Yunani

| | 0 komentar |
Dalam sebuah langkah baru untuk mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, suporter bola Yunani menyambut tim kesebelasan Israel yang menjadi bintang tamu dalam tahap keempat kualifikasi piala Euro 2012, dengan mengibarkan bendera Palestina serta membuat laporan tentang penjajahan Zionis Israel di tanah Palestina.
Suporter bola Yunani mengibarkan bendera Palestina bersama dengan bendera Yunani sewaktu tim kesebelasan mereka bertanding melawan tim kesebelasan Israel sambil meneriakkan kalimat-kalimat dukungan terhadap Palestina dan membentangkan spanduk besar yang bertuliskan "Free Gaza" dan "Israeli Murderer" di tribun stadion bola.
Pertandingan sepak bola yang berlangsung sengit ini akhirnya dimenangkan oleh tuan rumah dengan skor 2-1.
Aksi dukungan terhadap Palestina dalam bentuk pengibaran bendera Palestina dan spanduk-spanduk kecaman terhadap penjajah Israel, sering muncul di stadion olahraga dalam pertandingan olahraga apapun, jika ada tim dari Israel bertanding.
Yunani merupakan salah satu tempat peluncuran armada kebebasan pada bulan Mei lalu yang akan membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk kapal "Hope" Libya pada bulan Juli dan kapal Rachel Corrie yang menjadikan pelabuhan Yunani sebagai start awal menuju perairan Gaza.(fq/imo)