Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

misteri atlantis adalah INDONESIA

| Selasa, 12 Oktober 2010 | 3 komentar |

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh
hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu
mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal
sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan
Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi
berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa,
pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian
permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang
hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa
Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah
melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis,
The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of
Plato’s Lost Civilization (2005). santos-atlantis.jpgSantos menampilkan
33 perbandingan,seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi,
dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya,
ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir,
dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof.
Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960,
mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara
Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah
nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut
Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu
tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang
menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya
sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua
yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang)
sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang
aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale,
terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang
akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa
itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es
(era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi
secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia
(dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal
dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India
Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan
gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau
Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu.
Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau
(Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya
serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau
menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol).
Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat
dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam,
ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak
Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia
bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera
(ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi
secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di
kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan
Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung
berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan
luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantaibenua.
Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia,
tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai
bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua
Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh
Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik
terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.
Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata,
“Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada
Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu
adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik
Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di
Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar,
Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani.
Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya
tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian
meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan
gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur
yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui),
tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah
dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya
sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu
bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris
Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak
rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada
masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan
bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya
kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***

Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law
(IISL), Paris-Prancis

Benua Atlantis & Peradaban Awal Umat Manusia Ada di Indonesia ?

– Para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang ‘Atlantis’ masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.

Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.

Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

”Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), di sela-sela rencana gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005.

Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis — jika memang benar — adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.

Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.

Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.

Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ”Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,” terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan.

Armada Laut Indonesia Pernah Terkuat

| Minggu, 03 Oktober 2010 | 0 komentar |
Kesal rasanya melihat aneka ragam penjarahan potensi sumber daya laut Indonesia. Bayangkan, kerugian akibat pencurian ikan setiap tahunnya sekitar US$ 4 miliar. Kerugian ini belum termasuk penyelundupan pasir laut, illegal logging melalui kapal laut, dan perompakan. Karenanya butuh armada laut yang besar, kuat, dan lincah yang bisa mengutungi perbuatan para penjarah.
Foto-foto: istimewa-KRI Irian
Armada yang besar dan kuat sebenarnya pernah kita miliki semasa periode 1959-1963. Kala itu, dalam rangka Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat, TNI AL dan TNI AU diperkuat dengan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang paling mutakhir. Boleh dikata waktu itu armada TNI AL kita menjadi yang terkuat di belahan Bumi selatan.
Betapa tidak, semua jenis kapal perang (combatant), kecuali kapal induk, kita punyai. Di dalam sistem senjata angkatan laut, kapal induk merupakan kapal perang yang terbesar, disusul dengan kapal penjelajah (cruiser), perusak (destroyer), fregat, korvet, dan patroli cepat. Di samping itu ada senjata pamungkas yang paling ditakuti kapal lawan, yaitu kapal selam bersenjatakan torpedo. KRI Irian adalah kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.
Kapal penjelajah buatan Uni Sovyet yang tadinya bernama Sverdlov ini pada Oktober 1962 bergabung ke dalam armada TNI AL. Kapal itu termasuk kapal perang raksasa. Panjang bodi kapal saja mencapai 230 meter lebih atau setara dua kali panjang lapangan sepakbola. Kapal berbobot 19.200 ton ini bersenjatakan 56 meriam berbagai kaliber dan diawaki oleh 1.050 personel.
Pada 1963, Presiden RI Ir Soekarno, saat pertama kalinya berkunjung ke Irian Barat (Papua), ia menumpang kapal tersebut. Bersamaan dengan itu, menurut rencana Indonesia juga akan memperoleh cruiser kedua dari Uni Sovyet. Bahkan sebuah kapal induk sedang disiapkan pula. Sayang sekali, perubahan bandul politik membuyarkan semua program pembangunan kekuatan angkatan laut kita.


KRI macan tutul
14 Kapal Selam
Selain kapal penjelajah KRI Irian, saat itu angkatan laut RI juga diperkuat dengan kapal-kapal perusak (destroyer) kelas Skoryi dan kapal-kapal fregat kelas Riga. Semuanya buatan Uni Sovyet. Sebagai senjata pamungkas angkatan laut, berupa kapal selam jumlahnya ada 14 buah.
Dengan jumlah kapal selam yang terdiri dari beberapa kelas itu maka kekuatan Angkatan Laut Indonesia benar-benar disegani oleh berbagai negara, termasuk negara super power. Bukan hanya itu saja, kita dulu juga punya kapal patroli cepat bertorpedo kelas Jaguar buatan Jerman, KRI Macan Tutul.
Saat berhadapan dengan Armada AL Belanda dalam pertempuran Laut Aru-Laut Arafura pada 15 Januari 1962, KRI Macan Tutul tenggelam. Sebab, waktu itu kapal tersebut belum dilengkapi senjata torpedo. Jika saja Macan Tutul membawa torpedo, mungkin sejarah pertempuran di Laut Aru bisa berubah, minimal ada kapal angkatan laut Belanda yang bisa dilumpuhkan.
Dengan potensi armada sebesar itu, kekuatan laut yang diperhitungkan oleh Indonesia bukan lagi angkatan laut negara-negara tetangga. Namun lebih dari itu, adalah kekuatan Armada Ketujuh AL Amerika Serikat dan Armada Inggris di Samudera Hindia dan Pasifik.
Bayangkan, kapal-kapal perang negara adidaya itu bahkan tidak berani sembarangan menerobos masuk ke laut wilayah RI tanpa izin! Pada awal 1960-an, kekuatan TNI AL digelar dalam dua armada besar, yaitu Armada Nusantara yang mengawal perairan dalam dan Armada Samudra yang mengawal perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sampai ke Samudera Pasifik dan Samudra Hindia. Kewibawaan Indonesia di laut waktu itu begitu disegani oleh kekuatan angkatan laut negara maju.
Pernah suatu saat Armada Inggris meminta izin untuk lewat di Selat Sunda. Pihak Indonesia segera menyatakan kapal Inggris tidak boleh melintas karena kita sedang mengadakan latihan perang di sana. Alhasil, armada Inggris tadi pun tidak berani melewati Selat Sunda.
Kondisi itu jelas amat berbeda jika dibandingkan dengan kasus lewatnya armada AS di Laut Jawa tanpa izin beberapa waktu lalu. Bahkan saking lancangnya, pesawat-pesawat AS itu dengan arogan siap baku tembak dengan Pesawat F-16 TNI AU di perairan utara Pulau Bawean, Jawa Timur, pada 3 Juli 2003 lalu.

Pernah Terkuat
Catatan-catatan masa lalu itu mengingatkan bahwa di laut kita pernah terkuat dan jaya. Tidak berlebih semboyan TNI AL Jales Veva Jaya Mahe itu. Sewajarnyalah sekarang pun kita harus bangkit kembali. Semangat itulah yang sekarang harus dikobarkan ke dalam sanubari Bangsa Indonesia, bahwa kita adalah Bangsa Bahari dan tentu saja perlu didukung dengan kekuatan armada Angkutan Laut yang besar.
Sebab tanpa itu maka potensi sumber daya kelautan kita yang amat besar tadi akan tetap sebagai potensi saja, tidak bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat kita. Bahkan, kekayaan itu akan terus dicuri oleh penjarah yang kian pintar dan licik.Pernyataan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam Peringatan Hari Nusantara di Cilegon, Banten, Senin (19/1), patut segera diimplementasikan.
"Semestinyalah kita memberi perhatian yang besar terhadap laut wilayah, terutama yang membentang di antara nusa-nusa kita," begitu katanya. Presiden juga mengingatkan pentingnya kita membangun, mengelola, memanfaatkan dan mengamankan laut nusantara. Pengamanan laut secara menyeluruh dan mendasar mencakup penyelesaian batas wilayah laut dan memperkuat penegakan hukum dan kedaulatan kita di laut.
Senada dengan hal itu, Kepala Staf TNI AL, Laksamana Bernard Kent Sondakh mulai menyusun kekuatan angkatan laut yang lebih sesuai untuk masa kini. "Jika sebelumnya, doktrin TNI-AL adalah kecil, efisien dan efektif maka di masa depan AL kita haruslah besar, kuat, dan disegani," ujar Sondakh saat memperingati Hari Dharma Samudra 2004 di Cirebon, 15 Januari 2004. Dia juga mengatakan bahwa pihaknya segera melengkapi armada lautnya dengan empat kapal perang jenis korvet.
Sebetulnya, kendala dalam pengadaan armada laut antara lain terletak pada terbatasnya anggaran. Namun, kalau kita melihat aneka pelanggaran di laut yang kerugiannya mencapai US$ 9 miliar per tahun maka sebenarnya tidak ada alasan untuk menunda-nunda memfokuskan diri menguatkan armada laut. Inilah saat tepat bangkit kembali melawan segala pelanggaran di laut. (B-12) sumber : suarapembaruan.com