Tampilkan postingan dengan label sambas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sambas. Tampilkan semua postingan

SEJARAH KONFLIK ANTAR SUKU DI KABUPATEN SAMBAS

| Sabtu, 02 Oktober 2010 | 1 komentar |

SEJARAH KONFLIK ANTAR SUKU DI KABUPATEN SAMBAS


Oleh: Munawar M. Saad
@2003

Latar Belakang

Dari beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Ambon, Maluku dan Irian Jaya menunjukkan bahwa persoalan etnik di negeri kita ini masih cukup rawan, sebab bila terjadi sedikit gejolak di dalam masyarakat, akan patal akibatnya. Jika hal ini dibiarkan secara terus-menerus niscaya akan dapat mempengaruhi keutuhan sosial dan ketahanan nasional.
Perbedaan kultur dan hubungan sosial di kalangan masyarakat memang cukup peka sehingga perlu mendapatkan perhatian yang serius. Sebab jika kita lihat beberapa peristiwa kerusuhan yang pernah terjadi, dari berbagai sumber dan penelitian membuktikan bahwa pertikaian itu berawal dari persoalan tajamnya perbedaan kultur.
Hal ini berkembang terus dan tajam, sehingga menimbulkan sikap primordial (sentimen kesukuan yang sempit) dan dapat memunculkan kelompok-kelompok tertentu yang dapat mempengaruhi hubungan sosial antar warga masyarakat dan akhirnya akan merusak integritas nasional. Dengan demikian anjuran berulang kali tentang asimilasi sosial, kultural serta pembauran antara suku bangsa di negeri ini menjadi sia-sia.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, karena terdiri dari 17.508 pulau yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke.1 Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga dihuni oleh berbagai suku bangsa, baik yang berasal dari kepulauan Indonesia itu sendiri, maupun suku dari luar kepulauan Indonesia. Suku bangsa tersebut di antaranya adalah: Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Dayak, Madura, Bugis, Cina, Ambon, Aceh, dan lain-lain. Di antara suku bangsa tersebut, suku bangsa Melayu, Dayak, Cina dan Madura yang diangkat untuk dijadikan subyek penulisan ini.
Di Indonesia, persoalan yang masih dianggap rawan dan krusial adalah masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).2 Hal ini ditandai dengan banyaknya tindakan kekerasan, bentrokan fisik, serta berbagai tindakan ekstrim lainnya. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain adalah:3
1. Peristiwa 1952, perkelahian antara suku Madura dengan Dayak
2. Peristiwa pengusiran orang Cina oleh orang Dayak tahun 1967
3. Peristiwa kerusuhan antara Madura dengan Dayak tahun 1979 di Samalantan
4. Peristiwa 1983 konflik Madura dengan Dayak
5. Peristiwa Sanggau Ledo 1997 yang mengakibatkan kerusuhan antar etnik Dayak dengan Madura
6. Peristiwa 1998 konflik Madura dengan Dayak di Samalantan
7. Peristiwa 1999 perang terbuka antara Madura dengan Melayu di Kabupaten Sambas
8. Peristiwa 25 Oktober 2000 kerusuhan antar etnik Melayu Pontianak dengan Madura.
Selain konflik antar etnik Madura dengan masyarakat pribumi, sebelumnya juga pernah terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Konflik ini terjadi antara suku Dayak (suku asli) dengan etnik Cina (suku pendatang). Akibat dari konflik tersebut tidak kurang dari 300 orang yang meninggal dunia, dan 55.000 orang etnik Cina yang diungsikan. Peristiwa ini bertepatan juga dengan usaha ABRI untuk menumpas Pasukan Gerilyawan Rakyat Serawak (PGRS) keturunan Malaysia.4
Setelah era kemerdekaan, konflik etnik yang sering terjadi di Kalimantan Barat adalah antar Madura dengan Dayak. Tercatat sudah 12 kali sejak tahun 1950 sampai dengan 1999 5.
Bukan hanya dengan suku Dayak, orang Madura di Kalimantan Barat pertama kali bertikai dengan suku Melayu. Kala itu para saudagar Bugis, melayu, dan Arab membawa orang Madura ke Kalimantan Barat sebagai buruh kontrakan dengan upah murah. Mereka membuka hutan untuk dijadikan kebun dan ladang. Terkadang mereka tidak di upah, hanya diberi makan.