Tampilkan postingan dengan label kalbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalbar. Tampilkan semua postingan

tanda-tanda kalbar akan jadi barometer indonesia

| Senin, 18 Oktober 2010 | 0 komentar |
Yakinlah kita semua, banyak sejarah bangsa Indonesia ini lahir dari tanah Kalimantan apalagi kalimantan Barat.
Kalbar lah di kawasan nusantara yang pertama memiliki negara republik yang bernama Republik Lanfang.
Lambang Negara Burung Garuda merupakan rancangan Putra Kalimantan Barat Sultan Hamid II yang beristerikan seorang Belanda dan memiliki 2 orang anak. Keduanya berada di Belanda dan sesungguhnya mereka itulah yang seharusnya menjadi pewaris Kraton Kadriah karena keturunan pertama Sultan Hamid II.
Berkat kedekatan Sultan Hamid II lah Belanda memberikan kemerdekaan karena Sultan Hamid adalah anak emasnya Ratu Wihelmina.
Pembunuhan pertama di dalam ruang sidang pengadilan negeri dilakukan di Kalbar oleh orang Iban di Kapuas Hulu.
Pemukulan seorang Uskup oleh umatnya dan sejarah inipun terjadi di Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau.

kalimantan barat

| Jumat, 01 Oktober 2010 | 0 komentar |
Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan Pontianak.

Secara geografis, Provinsi Kalimantan Barat terletak di antara 108º BT hingga 114º BT, dan antara 2º6' LU hingga 3º5' LS.

Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki propinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau.

Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2000 berjumlah 4.073.430 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).
Sejarah

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Waterafdeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen.

Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Kondisi Alam

Iklim di kalimantan barat beriklim tropik basah, curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi pada bulan Januari dan Oktober suhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0.kelembapan rata-tara antara 80% s/d 90%

Suku Bangsa

Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Dayak,Melayu dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%.

    * Suku Dayak : (1) Rumpun Iban, (2) Rumpun Darat, (3) Rumpun Ot Danum, (4) Rumpun Punan, (5) Rumpun Apo Kaya
Bahasa

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat pula bahasa-bahasa daerah yang juga banyak dipakai seperti Bahasa Melayu, beragam jenis Bahasa Dayak, Menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka.

Bahasa Melayu di kalbar terdiri atas beberapa jenis, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Melayu Sanggau dan Bahasa Melayu Sambas. Bahasa Melayu Pontianak sendiri memiliki logat yang hampir mirip dengan bahas Melayu Malaysia dan Melayu Riau.                                                                                           sumber:http://www.id.indonesia.nl/content/view/195/89/                

kerusuhan dayak-madura kalbar 1997

| | 0 komentar |
MALAM Minggu, 22 Februari 1997, beberapa karyawan Kantor Wilayah Kehutanan Kalimantan Barat (Kalbar) dengan riang gembira bermobil dari Pontianak. Mereka akan menghadiri acara halalbihalal yang akan diadakan di Singkawang, hari Minggu pagi. Tak ada kekhawatiran apa-apa ketika mereka meninggalkan Pontianak. Sudah berulang kali aparat mengatakan: keadaan saat ini sudah aman.
Sekitar tengah malam, mereka haru meninggalkan Mempawah. Beberapa aparat keamanan menghentikan mobil. Mereka diminta tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke Pontianak. Ada kerusuhan kembali di Sungairuk yang terletak antara Mempawah dan Singkawang. Mereka pun terpaksa memutar haluan.
Kejadian itu menunjukkan kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura masih terus berlangsung, meskipun hanya secara sporadis. Tampaknya, itulah yang membuat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saat itu,Jendral R. Hartono tetap memerintahkan 3.000 personel ABRI dari Kalbar maupun Jakarta tetap bersiaga penuh di sana. Tapi, karena sekian aparat harus dibagi dalam empat kabupaten, kerap kali mereka kecolongan bila ada kerusuhan baru. Dengan adanya kerusuhan itu, ditambah letak daerahnya yang strategis bagi pertahanan, ABRI malah berniat menambah personel keamanan. "Satuan kaveleri, misalnya," ujar KSAD.
Penambahan personel keamanan memang amat dibutuhkan di provinsi yang luasnya lebih dari 146 ribu kilometer persegi itu (lebih besar sedikit dari Pulau Jawa plus Madura). Apalagi bila ada perkelahian massal di antara kedua etnis di atas yang sudah terjadi sejak tahun 1950 dan kali ini sudah terjadi delapan kali. Meski upacara adat Nyaru' Samangat -- upacara adat Dayak untuk mengembalikan semangat dari rasa ketakutan -- sudah diadakan di beberapa kecamatan, bukan tak mungkin pertikaian meledak kembali.
Kerusuhan kali ini, meski sempat dipotong jeda perdamaian, sudah berlangsung hampir dua bulan. Tak ada yang bisa, atau mau, menjelaskan berapa banyak kerugian yang sudah diderita kedua suku itu. Penyerbuan ke kompleks perumahan dan tempat penampungan warga Madura (di beberapa tempat terjadi sebaliknya) terjadi hampir setiap hari. Rumah-rumah dibakar dan penghuninya dihabisi. Media-media asing mengatakan: jumlah korban sampai ribuan. Adapun Asisten Pengamanan KSAD saat itu, Mayjen Zacky Anwar Makarim, hanya mengangguk ketika ditanya apakah jumlah korban sekitar 300 orang. "Almost the same, dari kedua belah pihak," ujar Makarim. Tapi, Pangab Feisal Tanjung bilang, jumlah korban masih dihitung, jangan sembarang menyebut jumlah.
Padahal, penyebab kerusuhan itu hanya masalah sepele ketika terjadi senggolan antarpemuda dalam arena joget di Sanggauledo, sekitar 235 kilometer dari Pontianak, pada 30 Desember 1996. Bakrie, anak pasangan Dayak dan Madura itu, tersinggung dan menclurit Yokundus dan Rakim, pemuda-pemuda Dayak hingga harus masuk rumah sakit. Teman-teman Yokundus mengamuk dan menyerang daerah transmigrasi sosial Lembang dan Marabu. Karena tak menemukan warga Madura yang sudah keburu mengungsi, mereka pun merusak dan membakar rumah-rumah dan menjalar dengan cepat ke empat kecamatan lain.
Gara-gara kerusuhan itu, ribuan rumah terbakar dan puluhan orang dikabarkan tewas. Yang lain mengungsi ke kota-kota lain atau masuk ke dalam hutan. Bagaimanapun, dengan ikrar perdamaian dan bantuan aparat keamanan, pertikaian itu bisa diredakan.
Kerusuhan itu memasuki babak kedua yang lebih seram dan berkepanjangan ketika pada 29 Januari 1997 ada pihak yang memanfaatkan momentum tersebut dengan merusak kantor dan koperasi Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) di Pontianak yang dimiliki oleh 30 subsuku Dayak. Dini hari, sekitar 35 orang bertopeng (ada yang bilang muka mereka ditutup kain seperti ninja, jadi bukan topeng) menyerang yayasan yang membawahi SMP dan SMU Santo Fransiskus Asisi itu.
Siapa dan bagaimana wujud manusia misterius itu? Berikut ini adalah cerita Verico Marcel dan Samuel Angkouw dari Forum Petaupan Katouwan Sulawesi Utara yang sedang mengikuti pemetaan partisipatif di Kantor YKSPK saat mereka menyerang. "Walau kami sudah mendengar isu Kantor YKSPK termasuk salah satu sasaran, tapi karena ada alat-alat yang kami butuhkan, pada 27 Januari kami menginap di sana," ujar mereka.
Dalam asrama itu ada 36 wanita dan enam laki-laki. Siswa laki-laki bergantian piket sampai pukul 03.00. Ketika mereka akan tidur, terjadilah pernyerbuan sekitar pukul 04.15. Ketika Verico yang tidur di rumah penjaga sekolah mengintip ke kantor, tampak api sudah membesar dari salah satu ruangan. Juga terdengar bunyi ledakan, pecahan kaca, dan teriakan "Bunuh... bunuh.... Mana mandau?"
"Ketika kami mengintip, tampak seorang lelaki sedang berjalan. Di tangannya ada jerigen putih ukuran lima liter. Lelaki itu berjaket jins, berambut pendek, dan bertubuh agak gempal. Ia tidak bertopeng, tapi raut wajahnya tidak jelas karena jarak kami cukup jauh," cerita Verico.
Manusia bertopeng itu juga menyerang sebuah rumah kos sehingga dua karyawati, Natalia dan Sena Eva, luka-luka. Beredar kabar: mereka meninggal dan kerusuhan pun meletup lagi. Kali ini, kerusuhan itu dalam intensitas yang lebih besar. Warga Dayak menyerang permukiman Madura. Sebaliknya, penduduk Madura pun melakukan serangan dalam bentuk lain. Mereka menyetop kendaraan yang menuju ke Sanggauledo. Kalau di antara penumpang itu ada warga Dayak, tak ada ampun, langsung diclurit. Lanun, seorang supir Kijang, dan penumpang bus bernama Djalan tewas akibat aksi yang terjadi pada akhir Januari lalu.
Namun, yang membuat kemarahan warga Dayak berkobar adalah insiden terbunuhnya Martinus Nyangkot dalam pencegatan yang dilakukan warga Madura di Desa Peniraman, pada 31 Januari 1997. Nyangkot adalah Kepala Desa Maribas, Kecamatan Tebas, yang juga ketua adat setempat. Kala itu, ia hendak pulang ke kampungnya bersama anaknya Maria Ulfa, yang baru saja diwisuda di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Maria, lulusan Fakultas Ekonomi Untan, bisa selamat dalam penyegatan tersebut.
Maka, kerusuhan pun marak di Kabupaten Sanggau, yaitu di Kota Sanggau, Sosok, dan Tayan. Di Kabupaten Pontianak, konflik terjadi di kecamatan Ngabang, Sengahtemila, Mandor, Toho, Mempawah Hulu, dan Sungai Pinyuh. Dengan mandau tergantung di pinggang, ratusan warga Dayak berkeliling dengan truk untuk membakar rumah; dan bila menemukan warga Madura langsung diserbu.
Meski pasukan Kostrad dari Jakarta ditambah, mereka yang sedang marah tak kenal takut. Mereka tetap mengejar warga Madura yang diungsikan ke asrama tentara. Terpaksa, aparat menembak pemuda Dayak yang ingin merangsek warga Madura di markas Kodim Sanggaukapuas. Insiden penembakan serupa terjadi di beberapa lokasi lain. Tak jelas, berapa korban yang jatuh.
Aparat keamanan memang bertindak keras, termasuk kepada Zainuddin Isman, koresponden Kompas di sana. Sejak 3 Februari Zainuddin, 41 tahun, ditahan karena dalam razia senjata tajam oleh aparat keamanan di Pontianak, ia menyimpan sebilah mandau dan pisau dalam mobilnya. "Padahal, itu mandau hiasan yang dibeli ketika ada orang berjualan di kantornya," kata pengacaranya Djafar Oesman. Kabarnya, calon anggota legislatif dari PPP, nomor 2, dari Kalbar, itu juga ditahan karena membuat kronologi kejadian yang dianggap bisa memanaskan keadaan. Penahanan untuk Zainuddin itu kini diperpanjang hingga 3 April.
Kerusuhan itu, tampaknya, membuat aparat terkesan bingung dan asal menuding pihak-pihak yang dicurigai. Termasuk di antaranya dua ulama kondang dari Madura, yang salah satu di antaranya pernah mengunjungi Kalbar untuk menenangkan warga Madura di sana. Namun, dalam pertemuan dengan KSAD itu, para ulama mengatakan isu tersebut dikipasi oleh seorang pedagang besar asal Madura yang tinggal di sana.
Kini, pihak-pihak Dayak dan Madura mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk mematuhi peraturan agar kerusuhan bisa reda. Di tengah upaya tersebut, terjadi lagi penyerbuan orang Dayak ke perkampungan Madura di Dusun Sekim I dan II, Desa Sungaikunyit Hulu, Kecamatan Sungaikunyit, 18 Februari 1997. Dengan bersenjata mandau, tombak, panah, dan senjata lantak, tewaslah 17 orang warga. Kali ini, aparat sigap. Sejumlah 68 pelaku dengan senjatanya bisa ditangkap dan oleh aparat digolongkan dalam 13 kategori tindak pidana. Beberapa perusuh masih muda usia, seperti Jisen, 13 tahun, yang oleh Komandan Kodim Mempawah Letkol Bambang Ismoyono kemudian dijadikan anak angkatnya.
"Kerusuhan di Sekim itu terjadi karena para perusuh belum mengetahui kalau kedua belah pihak telah menyatakan kebulatan tekadnya," tutus Pangdam VI Tanjungpura Mayjen Namoeri Anoem saat itu. Padahal, katanya, instansi terkait sudah berbuat yang terbaik untuk mengembalikan kondisi seperti semula, misalnya dengan menyebarluaskan informasi melalui edaran, selebaran, radio, maupun koran.
Hingga kini, upacara Nyaru' Samangat yang diharapkan bisa meredakan gelegak kemarahan warga sudah dilakukan di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Sungai Ambawang, Air Besar, Desa Maribas Kecamatan Tebas (tempat tinggal Martinus Nyangkot), dan pada hari Minggu lalu diadakan di Sungai Pinyuh. Disusul, pada hari Senin, di Mandor dan seterusnya. Sebagian orang pesimistis, sekadar ritual formal tak menyelesaikan masalah. Tampaknya, harus selalu ada pemantauan; dan masing-masing pemimpin etnis diharapkan untuk selalu bertemu. Mudah-mudahan.
Laporan Verrianto Madjowa dan Koresponden Pontianak
*)D&R, 1 Maret 1997,sumber: http://www.tempo.co.id/ang/min/01/53/nas5.htm