Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malaysia. Tampilkan semua postingan

“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya”

| Selasa, 12 Oktober 2010 | 0 komentar |
Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia juga ada di Malaysia. Ada Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Tapi kita mudah diadu-domba pihak asing

Hidayatullah.com--Hubungan Indonesia dengan Malaysia mengalami pasang surut. Suatu kali tampak mesra, kali lain mengalami ketegangan. Bahkan kedua negara yang sebenarnya serumpun ini pernah bertempur di medan laga.

Beberapa waktu lalu, nyaris saja dua negara ini perang lagi gara-gara masalah perbatasan. Padahal, keduanya berpotensi besar menuju kejayaan Islam. Sebab, kedua negara ini mayoritas pendudukannya beragama Islam. Bahkan di Malaysia Islam dinyatakan sebagai agama resmi negara satu-satunya.

Terhadap pasang surutnya hubungan Indonesia dan Malaysia itu, pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari  Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) melihatnya ada peran asing. Benarkah?

Berikut ini wawancara  koresponden hidayatullah.com di Malaysia, Nuim Hidayat, dengan pakar masalah Asia dan penulis beberapa buku Melayu lulusan University of Hull, Inggris itu.

Bagaimana Anda melihat hubungan Malaysia Indonesia ini dari perspektif sejarah?

Kalau kita baca buku-buku sejarah, khususnya buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti Sejarah Melayu yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, maka wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam Melayu Raya. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai alam Melayu, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara.  Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia (PD)-II. Sebelum PD-II ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Di Indonesia juga ada usaha seperti ini. Mereka ingin alam Melayu ini disatukan atas nama “Indonesia Raya”. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Bagaimana kelanjutannya?

Rencana itu tidak berhasil karena dihalangi oleh kuasa-kuasa besar. Mereka tidak mau melihat bangsa Melayu mempunyai satu negara. Mereka hanya ingin melihat perpecahan. Kalau bangsa Melayu di bawah satu negara, maka akan jaya. Bangsa Melayau berpotensi besar, baik dari segi jumlah penduduknya yang besar maupun hasil buminya.

Akibat halangan kuasa-kuasa besar itu, usaha mewujudkan “Melayu Raya” akhirnya gagal. Malaysia dengan Malaysia-nya, Indonesia tetap dengan Indonesia-nya. Meski demikian, pasca tahun 1963, pemimpin-pemimpin Melayu berusaha tetap ada jalinan kerjasama yang erat.

Tahun 1958-1959, Tun Razak, Perdana Menteri  (PM) Malaysia, melakukan lawatan ke Jakarta dan Perdana Menteri (PM) Juanda melawat ke Kuala Lumpur. Mereka melakukan perjanjian kerjasama, kebudayaan dan bahasa. Walaupun berbeda negara, atas nama satu rumpun pemimpin Indonesia ingin kerjasama.

Bagaimana kemudian hubungan Indonesia Malaysia tahun 60-an itu?

Tokoh-tokoh Indonesia Malaysia sebenarnya mau mengukuhkan hubungan perjanjian persahabatan. Tahun 1961, hubungan Malaysia Indonesia lebih dingin berkaitan dengan rencana PM Malaysia untuk membentuk Malaysia. Dia  mengumumkan bahwa dia akan membebaskan Sabah, Serawak, Brunei, Singapura dari penjajahan Inggris dan menyatukan negeri ini dengan tanah Melayu.  Pengumuman itu disalahartikan oleh Presiden Soekarno. Ia menganggap rencana itu bertujuan melemahkan atau melumpuhkan Indonesia.

Gagasan itu ditentang Indonesia. Bila saya kaji, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa tujuan Malaysia untuk melemahkan Indonesia. Tujuan Malaysia adalah memerdekakan sisa-sisa penjajahan Inggris di Asia Tengah. Bukan bertujuan untuk mengepung Indonesia. Atau bermufakat dengan Barat memecah wilayah Indonesia. Saya kira ini lebih karena salah paham.

Tapi mengapa Presiden Soekarno bereaksi seperti itu?

Saya tak boleh menyalahkan Presiden Soekarno. Waktu ada pergolakan PRRI di Sumatera, ada pemimpin PRRI yang lari ke Melayu. Mereka memohon suaka politik. Malaysia mengizinkan, tapi dengan syarat jangan menjadikan tanah Melayu sebagai bekal untuk menentang Indonesia. Jadi itulah mengapa kemudian Malaysia memberikan perlindungan kepada Des Alwi, Dr Sutino, dan lain-lain.

Tapi Soekarno justru salah paham dan mencurigai Melayu. Tahun 1963-1966 terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Bagaimana hubungan RI-Malaysia di saat Soeharto?


Soeharto mengambil alih tahun 1966, hubungan Malaysia-Indonesia menjadi pulih. Setelah itu, hubungan Indo-Malay zaman Tun Razak-Soeharto cukup bagus, cukup erat. Kalau konfrontasi diteruskan, maka yang mendapat manfaat ketika itu pasti Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satu syarat yang diberikan Indonesia untuk Malaysia adalah dengan mengadakan pemungutan masalah Sabah dan Serawak.  Malaysia setuju. Pemungutan suara diadakan lewat Pemilu tahun 1967. Hasilnya partai pro-Malaysia menang dan Sabah-Serawak memilih untuk bergabung dengan Malaysia. Tapi Indonesia kala itu melihat bahwa Sabah-Serawak dipaksa masuk ke Malaysia, untuk “melumpuhkan” Indonesia.

Jika begitu, bagaimana sebenarnya pandangan Malaysia kepada Indonesia?


Tun Razak menganggap Indonesia sebagai abangnya. Tapi yang berlaku hari ini, sejarah ini banyak dilupakan, baik oleh generasi di Indonesia maupun di Malaysia. Lupa bahwa Malaysia-Indonesia adalah alam Melayu yang satu rumpun. Melayu Johor, Melayu Jawa, Kalimanatan, satu rumpun. Susahnya, sejarah ini tidak diajarkan kepada generasi baru, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Akibatnya, generasi baru di Indonesia  dan Malaysia menganggap bahwa kita berbeda. Tapi pada generasi kami, menganggap bahwa hubungan dengan Indonesia adalah kakak-adik saja.

Jadi harus bagaimana menyikapi sejarah ini?

Sebaiknya, kita harus memasukkan unsur  sejarah ini dalam pelajaran di sekolah, baik di  Indonesia maupun Malaysia. Bahwa kita ini aslinya satu rumpun. Kita menjadi berpisah karena penjajahan. Di  Institut Alam dan Tamadun Melayu, kita ingin membangkitkan semangat satu rumpun Melayu ini.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Aslinya penduduk semenanjung itu sebenarnya Kelantan, Trengganu, dan Kedah. Kini banyak orang Jawa di Johor, Selangor juga Jawa, Aceh pun banyak di sini.  Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Sultan Selangor itu dari Bugis. Jadi sepatutnya kita dengan semangat satu rumpun bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Tapi kalau masing-masing berpecah karena ashabiyah, kita akan terus menjadi mainan kuasa-kuasa besar yang tidak mau melihat bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kita mesti tanamkan kembali sejarah. Dari segi agama, bahasa, Melayu sama.

Bagaimana bisa meyakinkan bahwa ada usaha asing untuk memecah Melayu ini?

Dalam memoar buku Thomas Raffles disebutkan, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan dia usul dua strategi: Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk (dibawa orang-orang China dan India).

Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu: Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuannya untuk memisahkan Arab dengan Melayu.

Harus diingat bersama, sebelum ini hubungan antara kerajaan Islam di Melayu dengan Daulah Utsmaniyah cukup erat. Sebab, penasehat raja-raja Melayu adalah ulama dari Timur Tengah.  Maka, itu oleh Raffles diganti dengan penasehat dari Belanda atau Inggris.

Yang penting sekarang, Indonesia-Malaysia harus terus bekerjasama, dan harus terus ditingkatkan.

jangan beraninya hanya dengan malaysia???????????????

| | 0 komentar |
SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama, TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Kedua, banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga, identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di Singapura.

Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini  (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima,
banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebalinya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam, Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.

Isu “memanasnya" hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari  Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara khusus dengan hidayatullah.com mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang.  Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu rumpun”  untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati  dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik  agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan Indonesia-Malaysia,   ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan,  tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras  gas kita dengan Harunnya dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor di Indonesia.

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.”
(QS: al-Hujurat ayat 10) (http://www.hidayatullah.com/kolom/opini/opini/13117-mengapa-kita-beraninya-hanya-pada-malaysia)