Muslim Eropa Meningkat, Vatikan Kebakaran Jenggot

| Minggu, 03 Oktober 2010 | 0 komentar |
VATIKAN (Berita SuaraMedia) – Umat Kristen Eropa harus memiliki lebih banyak anak atau menghadapi prospek dari benua tersebut menjadi ter-Islamisasi, seorang pejabat senior Vatikan mengatakan.
Dengan meningkatnya pendatang Muslim di Eropa, telah membangkitkan kekhawatiran di antara pejabat senior Vatikan. Sebagai benua dengan identitas agama Kristennya, menurunnya angka kelahiran dari penduduk pribumi benua tersebut mebuat sebagian pemimpin Katolik di beberapa negara Eropa khawatir akan hilangnya identitas benua tersebut karena semakin meningkatnya pertumbuhan umat Muslim di Eropa. Sebagian pemimpin agama Kristen dari beberapa negara di benua tersebut angkat bicara dan menyalahkan umatnya sendiri atas ketidakmampuan mereka berpegang teguh pada keyakinan keagamaan mereka. Sementara sebagian pemimpin Katolik di beberapa negara dengan dominasi Kristen membela kebebasan beribadah umat Muslim, beberapa juga berupaya untuk mempertahankan Kristianitas dengan menghimbau umatnya untuk kembali kepada keyakinan mereka.
Bapa Piero Gheddo dari Italia mengatakan bahwa angka kelahiran yang rendah di antara penduduk asli pribumi Eropa digabung dengan sebuah gelombang yang belum pernah terjadi sebelumnya dari para imigran Muslim dengan keluarga besar dapat melihat Eropa menjadi terdominasi oleh Islam dalam ruangan dari sedikit generasi.
"Tantangan tersebut harus dianggap dengan serius," Gheddo dari Institut Pimpinan Katolik untuk Misi Asing, mengatakan.
"Tentu saja dari sebuah sudut pandang demografik, karena jelas bagi semua orang bahwa warga Italia menurun 120.000 atau 130.000 orang per tahun karena aborsi dan keluarga yang berantakan – sementara di antara lebih dari 200.000 pendatang setiap tahunnya di Italia, lebih dari setengahnya adalah umat Muslim dan keluarga-keluarga Muslim, yang memiliki sebuah tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi."
Ia mengatakan: "Koran-koran dan program televisi tidak pernah membicarakan tentang hal ini. Bagaimanapun juga, sebuah jawaban harus diberikan di atas semuanya dalam bidang keagamaan dan kebudayaan dan di daerah indentitas."
Pendeta tersebut menyalahkan umat Kristen karena gagal untuk berpegang pada kepercayaan mereka sendiri dan membantu untuk menciptakan sebuah "kekosongan keagamaan" yang mana sedang diisi oleh Islam.
Ia memprediksikan bahwa Islam akan "lebih cepat dari pada lebih lambat menaklukkan mayoritas  Eropa".
"Faktanya adalah, sebagai sebuah masyarakat, kita menjadi lebih kafir dari sebelumnya dan kekosongan keagamaan tak terelakkan diisi oleh proposal dan kekuatan agama lainnya," ia mengatakan.
Pastur Geddho juga menatakan bahwa umat Kristen yang telah lewat batas waktunya juga membuat diri mereka sendiri rentan pada serangan-serangan oleh para sekulerasi.
Ia mengatakan bahwa ketika "praktik keagamaan  menyusut dalam umat Kristen Eropa dan kelalaian menyebar, Kristianitas dan Gereja diserang".
"Jika kami menganggap diri kami sendiri sebagai negara Kristen, kita seharusnya kembali pada praktik kehidupan Kristen, yang juga akan menyelesaikan masalah kekuasaan yang kosong," ia menambahkan.
Komentar-komentar dari pastur Gheddo datang hanya satu bulan setelah sebuah kardinal Checnya juga menyalahkan berakhirnya Katolik karena Islamisasi di Eropa.
Pada masa pensiunnya sebagai Uskup Agung Praha awal tahun ini, Kardinal Miloslav VLK mengatakan bahwa umat Muslim ditempatkan dengan baik untuk mengisi kekosongan "yang diciptakan secara sistematis Eropa kosong akan kadar umat Kristen dari kehidupan mereka".
Ia mengatakan bahwa kecuali umat Kristen bangkit untuk menciptakan ancaman pada kebudayaan mereka mereka akan segera menemukan bahwa mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk membuat tanda mereka di masyarakat.
Ia menyerukan untuk menanggapi ancaman Islamisasi dengan hidup dalam keyakinan keagamaan mereka sendiri dengan lebih taat.
Sementara banyak uskup Katolik Eropa sering membela hak-hak umat Muslim untuk beribadah secara publik yang lainnya lebih tajam untuk melindungi warisan budaya Kristen dari benua mereka.
Tahun lalu Kardinal Jose Giacomo Biffi juga telah mendesak pemerintah Italia untuk memberikan prioritas kepada para migran Katollik daripada umat Muslim dengan tujuan untuk melindungi identitas keagamaan negara tersebut.
Vatikan juga telah menentang Turki bergabung dalam Uni Eropa sebagian karena negara Muslim tidak berbagi dengan warisan budaya Kristen benua tersebut (ppt/tlg) www.suaramedia.com

Petikan surat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani

| | 0 komentar |
Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahsia-rahsia Ilahi.
Bila cahaya dari “Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi…” mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan daripada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia “memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia Allah menyinarinya?
Sekiranya cahaya rahsia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada rahsia-rahsia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang “…dan berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu)…”. Bukanlah bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah “…menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang”. Sekiranya lampu rahsia-rahsia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur. Sebahagiannya kamu telah ketahui sebahagian yang lain akan kami beritahu di sini. Baca, dengar, cuba fahamkan. Langit ketidaksedaran (kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk langit memancarkan “cahaya di atas cahaya” berterusan meninggi di langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. “(Aku bersumpah) demi malam apabila ia senyap sepi…dengan cuaca pagi yang cemerlang…” malam ketidaksedaran kamu akan melihat terangnya hari siang. Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan “bertaubat di awal pagi” terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata:
Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka memohon keampunan Allah
Allah bimbangkan kepada cahaya-Nya sesiapa yang Dia kehendaki.
Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu adalah “yang Allah beri petunjuk” dan kamu “berada pada jalan yang benar” dan bukan “mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan”. Dan kamu akan memahami rahsia:
Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing).
Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan “perumpamaan yang Allah adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu”, dan tabir-tabir akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya.
Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya rahsia-rahsia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya.

SEJARAH KONFLIK ANTAR SUKU DI KABUPATEN SAMBAS

| Sabtu, 02 Oktober 2010 | 1 komentar |

SEJARAH KONFLIK ANTAR SUKU DI KABUPATEN SAMBAS


Oleh: Munawar M. Saad
@2003

Latar Belakang

Dari beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Ambon, Maluku dan Irian Jaya menunjukkan bahwa persoalan etnik di negeri kita ini masih cukup rawan, sebab bila terjadi sedikit gejolak di dalam masyarakat, akan patal akibatnya. Jika hal ini dibiarkan secara terus-menerus niscaya akan dapat mempengaruhi keutuhan sosial dan ketahanan nasional.
Perbedaan kultur dan hubungan sosial di kalangan masyarakat memang cukup peka sehingga perlu mendapatkan perhatian yang serius. Sebab jika kita lihat beberapa peristiwa kerusuhan yang pernah terjadi, dari berbagai sumber dan penelitian membuktikan bahwa pertikaian itu berawal dari persoalan tajamnya perbedaan kultur.
Hal ini berkembang terus dan tajam, sehingga menimbulkan sikap primordial (sentimen kesukuan yang sempit) dan dapat memunculkan kelompok-kelompok tertentu yang dapat mempengaruhi hubungan sosial antar warga masyarakat dan akhirnya akan merusak integritas nasional. Dengan demikian anjuran berulang kali tentang asimilasi sosial, kultural serta pembauran antara suku bangsa di negeri ini menjadi sia-sia.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, karena terdiri dari 17.508 pulau yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke.1 Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga dihuni oleh berbagai suku bangsa, baik yang berasal dari kepulauan Indonesia itu sendiri, maupun suku dari luar kepulauan Indonesia. Suku bangsa tersebut di antaranya adalah: Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Dayak, Madura, Bugis, Cina, Ambon, Aceh, dan lain-lain. Di antara suku bangsa tersebut, suku bangsa Melayu, Dayak, Cina dan Madura yang diangkat untuk dijadikan subyek penulisan ini.
Di Indonesia, persoalan yang masih dianggap rawan dan krusial adalah masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).2 Hal ini ditandai dengan banyaknya tindakan kekerasan, bentrokan fisik, serta berbagai tindakan ekstrim lainnya. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain adalah:3
1. Peristiwa 1952, perkelahian antara suku Madura dengan Dayak
2. Peristiwa pengusiran orang Cina oleh orang Dayak tahun 1967
3. Peristiwa kerusuhan antara Madura dengan Dayak tahun 1979 di Samalantan
4. Peristiwa 1983 konflik Madura dengan Dayak
5. Peristiwa Sanggau Ledo 1997 yang mengakibatkan kerusuhan antar etnik Dayak dengan Madura
6. Peristiwa 1998 konflik Madura dengan Dayak di Samalantan
7. Peristiwa 1999 perang terbuka antara Madura dengan Melayu di Kabupaten Sambas
8. Peristiwa 25 Oktober 2000 kerusuhan antar etnik Melayu Pontianak dengan Madura.
Selain konflik antar etnik Madura dengan masyarakat pribumi, sebelumnya juga pernah terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1967. Konflik ini terjadi antara suku Dayak (suku asli) dengan etnik Cina (suku pendatang). Akibat dari konflik tersebut tidak kurang dari 300 orang yang meninggal dunia, dan 55.000 orang etnik Cina yang diungsikan. Peristiwa ini bertepatan juga dengan usaha ABRI untuk menumpas Pasukan Gerilyawan Rakyat Serawak (PGRS) keturunan Malaysia.4
Setelah era kemerdekaan, konflik etnik yang sering terjadi di Kalimantan Barat adalah antar Madura dengan Dayak. Tercatat sudah 12 kali sejak tahun 1950 sampai dengan 1999 5.
Bukan hanya dengan suku Dayak, orang Madura di Kalimantan Barat pertama kali bertikai dengan suku Melayu. Kala itu para saudagar Bugis, melayu, dan Arab membawa orang Madura ke Kalimantan Barat sebagai buruh kontrakan dengan upah murah. Mereka membuka hutan untuk dijadikan kebun dan ladang. Terkadang mereka tidak di upah, hanya diberi makan.

SEJARAH KERAJAAN SEKADAU

| | 0 komentar |
SEJARAH KERAJAAN SEKADAU Nama Sekadau terambil dari sejenis pohon yang banyak tumbuh di muara sungai Sekadau. Penduduk setempat menamakannya Batang Adau.
Asal mula penduduk Sekadau adalah pecahan rombongan Dara Nante yang di bawah pimpinan Singa Patih Bardat dan Patih Bangi yang meneruskan perjalanan ke hulu sungai Kapuas. Rombongan Singa Patih Bardat menurunkan suku Kematu, Benawas, Sekadau dan Melawang. Sedangkan rombongan Patih Bangi adalah leluhur suku Dayak Melawang yang menurunkan raja-raja Sekadau.

Tips Merawat Arwana dalam Akuarium

| | 0 komentar |
Kelalaian adalah sumber malapetaka bagi penggemar. Sekali saja lalai tidak mengontrol aerator akuarium, bisa-bisa arwana mati. Apalagi ceroboh, tentu lebih fatal akibatnya. Maka bagi penggemar yang sungguh-sungguh mencintai arwana, pastilah memperhatikan seluk-beluk di sekitar perawatan. Harapannya, agar arwana dalam akuarium bisa tampil anggun dan asri. Lantas apa yang harus dilakukan?

1. Perhatikan peralatan aquarium
Berhasil tidaknya akuarium menjadi tempat yang nyaman bagi ikan arwana, sungguh dipengaruhi oleh kelengkapan sarana pendukungnya.

Aerator
Fungsi aerator atau pompa udara adalah menyuplai udara ke dalam air akuarium, dan sekaligus menguapkan atau mendorong hasil sisa-sisa pembakaran ke luar dari akuarium. Aerator dikatakan baik, jika arus listrik yang menggerakkannya kecil, tetapi udara yang ditiupkannya relatif banyak.

Heater & Thermometer
Alat pemanas (heater) ini diperlukan terutama pada waktu suhu air akuarium turun drastis. Sedangkan alat pengontrol suhu air atau termometer juga dipasang dalam akuarium. Di daerah dingin, heater dan termometer ini sangat dibutuhkan.

Filter
Fungsi filter atau penyaring untuk menyaring air dalam akuarium. Kerja filter mencakup ini untuk menyedot air akuarium, menyaring, dan mengembalikannya lagi ke dalam akuarium dalam kondisi bersih.

Lampu TL
Keberadaan lampu TL, selain menyinarkan cahaya, juga sanggup mempercantik penampilan akuarium. Tapi, jangan sampai sinar lampu TL justru menimbulkan panas yang melebihi kebutuhan. Idealnya untuk akuarium seluas 80x40 cm memerlukan lampu TL berdaya 20 watt.

2. Rajin melakukan perawatan akuarium
Mau tak mau jika Anda terlanjur mencintai ikan arwana dalam akuarium, cukuplah rajin melakukan perawatan. Sebab déngan demikian itu, penampilan arwana dalam akuarium tampak sehat, segar, dan menyenangkan.

Pemberian makanan
Menu utama arwana dalam akuarium adalah kelabang. Tapi jangan terus- menerus diberi kelabang, sebaiknya divariasi déngan makanan lain. Contohnya: udang, kecoa, katak, lipan, kadal, maupun jangkrik.

Pengontrolan & pergantian air
Setiap hari diwajibkan mengontrol suhu dan pH air. Adapun suhu air ideal bagi ikan arwana sekitar 25-27 derajat Celcius. Andaikata suhu air dingin, segera nyalakan heater hingga suhu air sesuai kebutuhan. Sedangkan pH yang dikehendaki sekitar 6-8,5. Andaikata pH terlalu rendah, maka tambahkan kapur ke dalam akuarium. Selain itu, sanitasi air perlu diperhatikan pula, silakan mengobati air akuarium déngan Malachite green, déngan frekuensi 3 minggu sekali.
Dan jangan lupa, air akuarium juga diganti. Namun pergantian air dipilahkan menjadi dua, yakni: (a) pergantian air secara reguler setiap 2 hari sekali dengan volume 10% dari seluruh volume air akuarium, dan (b) total pergantian air dilakukan setiap 3 bulan sekali. Jika Anda menggunakan air PAM, sebaiknya dibiarkan 24 jam terlebih dahulu agar kandungan khlor mengendap, dan setelah itu bisa dimasukkan ke dalam akuarium.

3. Penataan interior akuarium
Kehidupan di dalam akuarium adalah replika lingkungan hidup di alam bebas. Oleh karena itu, perlu penataan interior dalam akuarium. Ini berarti menuntut apresiasi estetika, sehingga perpaduan antara keindahan akuarium dengan anggunnya ikan arwana sanggup menampilkan nuansa kesejukan yang harmonis.

Tanaman air
Mengingat asal-muasal ikan arwana yang suka bersembunyi di bawah tanaman air, maka kita pun siap menyediakan tanaman dimaksud. Ada beberapa jenis tanaman air yang dapat dipilih antara lain: Vallisneria spiralis, Hidrilla verticillata, Riccia fluiutana, Higrophila polisperma, Pistia stratiotes, Najas indica, dan sebagainya.

Pasir batuan
Pasir digunakan sebagai landasan peletakan batuan. Sebaiknya digunakan pasir sungai, yang masih bercampur dengan humus. Di samping itu, diberi juga batuan dan termasuk karang-karangan. Ukuran batu idéal berdia meter 3 mm. Batuan tersebut memiliki berbagai corak dan warna yang beragam namun tetap indah.
(Hieronymus Budi Santoso)                                                                                                                     http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/05/4/hob2.html 

Bagimu Ayah dan Ibu

| Jumat, 01 Oktober 2010 | 0 komentar |
penulis Al Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu Imran
Sakinah Permata Hati 23 - Oktober - 2004 10:26:36
Sebuah kebahagiaan yg mungkin tdk bisa diungkapkan dgn kata-kata manakala orang tua mendapati di hari tua perlakuan yg demikian istimewa dari anak-anaknya. Ketika ia mulai lemah dan mungkin sakit-sakitan anak-anak dgn sabar dan penuh perhatian memberikan perawatan kepadanya. Ini semua tentu tdk didapat begitu saja namun melalui pendidikan dan perjuangan yg panjang dari orang tua tersebut agar anak-anak tumbuh menjadi anak yg shalih dan berbakti pada orang tuanya.
Sesosok anak tdk akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaan ia adl bagian dari diri keduanya. Dia adl darah daging keduanya. Rahim ibu adl tempat buaian yg pertama di dunia ini. Air susu menjadi sumber makanan yg menumbuhkan jasadnya. Kasih sayang ibu adl ketenangan yg selalu dia rindukan. Kerelaan ibu utk berjaga membuat nyenyak tidurnya. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagiaan untuknya.
Timangan sang ayah dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya. Doa-doa yg mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yg didapatinya. tdk terhingga dgn hitungan jemari utk merunut kembali segala kebaikan yg mereka curahkan utk buah hati mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hak bagi kedua orang tua utk diberikan bakti kelembutan penjagaan dan kasih sayang dan Allah kuatkan hak ini dgn mengiringkan setelah hak-Nya Subhanahu wa Ta’ala krn hak orang tua mengandung pemuliaan dan pengagungan. Bahkan di dlm Kitab-Nya yg mulia termaktub berbilang ayat yg memberikan wasiat dan mendorong utk berbakti kepada orang tua serta menjanjikan banyak kebaikan bagi seorang yg berbakti dan mengancam dgn balasan yg akan menimpa orang yg mendurhakai ayah bundanya.
Di antara sekian banyak ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dgn sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”
Dalam kalam-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk beribadah hanya kepada-Nya semata dan tdk menyekutukan-Nya krn Dialah Al-Khaliq Ar-Raziq Al-Mun’im yg memberikan keutamaan kepada makhluk-Nya tiap saat dan tiap keadaan. Oleh krn itu Dialah yg berhak utk diesakan dan tdk disekutukan dgn sesuatu pun dari kalangan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yg dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:
} قَالَ : اللهُ وَرَسُوْلُهُُ أَعْلَمُ. قَالَ } ثُمَّ قَالَ }
“Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya?” Mu’adz menjawab “Allah dan Rasul-Nya lbh mengetahui.” Beliau berkata “Yakni beribadah hanya kepada-Nya dan tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatupun.” Kemudian beliau berkata lagi “Tahukah engkau apa hak hamba atas Allah bila mereka melaksanakannya? Allah tdk akan mengadzab mereka.”
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan utk berbuat baik kepada kedua orang tua krn Allah jadikan kedua sebagai sebab keluar seseorang dari ketiadaan menjadi ada.
Oleh krn itu semesti semenjak dini kedua orang tua mulai menanamkan hal ini kepada putra-putri mereka mengiringi pengajaran tentang keimanan terhadap Rabb mereka. Inilah pula yg dilakukan oleh Luqman yg mengiringi wasiat kepada anak utk beribadah kepada Allah semata dgn wasiat utk berbuat baik kepada kedua orang tua.
“Dan Kami wasiatkan kepada manusia utk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibu telah mengandung dlm keadaan payah yg bertambah-tambah dan menyapih dlm dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Ha kepada-Kulah kembalimu.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk bersyukur kepada-Nya dgn melaksanakan peribadahan kepada-Nya serta menunaikan hak-hak-Nya dan tdk menggunakan ni’mat-ni’mat yg dianugerahkan-Nya utk bermaksiat pada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan utk bersyukur kepada kedua orang tua dgn berbuat baik kepada keduanya. Hal ini dilakukan dgn berucap lemah lembut melakukan perbuatan yg baik dan merendahkan diri terhadap mereka. Juga dgn memuliakan dan menanggung kebutuhan hidup serta tdk menyakiti mereka dgn cara apa pun baik dgn ucapan atau pun perbuatan.
Di dlm ayat ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut tentang pendidikan seorang ibu kesulitan dan kesusahan ketika harus berjaga siang dan malam. Penyebutan ini utk mengingatkan anak tentang kebaikan seorang ibu yg telah diberikan kepada sebagaimana tersebut dlm firman Allah:
“Dan ucapkanlah doa: Wahai Rabbku kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku.”
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pengajaran bagaimana semesti seorang anak bersikap terhadap kedua orang tua yg musyrik:
“Dan apabila kedua memaksamu utk menyekutukan Aku dgn sesuatu yg engkau tdk memiliki ilmu tentang mk jangan engkau ikuti kedua dan pergaulilah mereka berdua di dunia dgn baik dan ikutilah jalan orang yg kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu mk Aku kabarkan padamu apa yg telah kamu kerjakan.”
Janganlah seseorang menyangka bahwa hal ini termasuk kebaikan terhadap orang tua krn hak Allah lbh diutamakan daripada hak siapa pun juga dan tdk ada ketaatan terhadap makhluk dlm kemaksiatan terhadap Al-Khaliq.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk mengatakan “Apabila mereka berdua memaksamu utk menyekutukan Aku dgn sesuatu yg kamu tdk memiliki ilmu tentang mk durhakailah keduanya.” Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan “Jangan engkau ikuti mereka dlm perbuatan syirik mereka.”
Adapun berbakti terhadap mereka mk engkau harus terus melakukannya. Oleh krn itulah Allah berfirman yaitu pergaulilah mereka di dunia ini dgn penuh kebaikan. Adapun mengikuti mereka sementara mereka berkubang dlm kekufuran atau kemaksiatan mk hal itu janganlah engkau lakukan.
Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan tentang ancaman durhaka kepada kedua orang tua. Bahkan beliau nyatakan bahwa hal itu termasuk dosa besar. Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu menyampaikan ucapan beliau ini:
} قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ ثَلاَثًا } وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ } فَمَا زَالَ يَقُوْلُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ.
“Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang dosa besar yg paling besar?” Kami menjawab “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau pun berkata tiga kali “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Semula beliau dlm keadaan bersandar lalu beliau pun bangkit duduk dan mengatakan “Ketahuilah ucapan dusta dan saksi palsu! Ketahuilah ucapan dusta dan saksi palsu!” Beliau terus-menerus mengatakan hal itu hingga aku berkata “Andaikan beliau diam.”
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman beliau:
} قِيْلَ : مَنْ؟ يَا رَسُوْلَ الله! قَالَ }
“Nista dan hinanya! Nista dan hinanya! Nista dan hinanya!” Beliau pun dita “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Seseorang yg mendapati salah seorang atau kedua orang tua dlm keadaan lanjut usia namun dia tdk masuk ke dlm surga.”
Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan dorongan utk berbakti kepada orang tua serta menunjukkan besar pahala amalan itu. Di dlm ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut didapati makna bahwa berbakti kepada kedua orang tua pada saat mereka telah lanjut usia dan lemah dgn mencurahkan khidmat nafkah ataupun lain merupakan sebab masuk seseorang ke dlm surga. Barangsiapa yg meremehkan mk dia akan terluput dari masuk surga dan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebuah kisah tentang bakti seorang anak kepada orang tua yg amalan itu dapat melepaskan dari belenggu musibah yg menimpa disampaikan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
}
Ada tiga orang yg sedang dlm perjalanan. Tiba-tiba turun hujan menimpa mereka hingga mereka pun berteduh di dlm gua di sebuah gunung. Ketika mereka berada di dlm gua runtuhlah sebuah batu besar dari gunung di mulut gua hingga menutupi mereka. mk ada di antara mereka yg berkata kepada teman “Lihatlah amalan shalih yg pernah kalian kerjakan krn Allah lalu mohonlah kepada Allah dgn amalan tersebut. Semoga dgn itu Allah akan memberikan jalan keluar kepada kalian.” mk salah seorang di antara mereka berdoa “ Ya Allah sesungguh aku memiliki dua orang tua yg telah renta dan aku pun memiliki istri dan anak-anak kecil. Aku biasa menggembala kambing-kambing utk mereka. Apabila aku telah membawa pulang kambing-kambingku aku biasa memerah susu dan aku awali dgn memberikan minum kepada kedua orang tuaku sebelum memberikan kepada anak-anakku. Suatu ketika aku terlalu jauh menggembala sehingga belum juga pulang sampai sore hari hingga kudapati mereka berdua telah tidur. mk aku pun memerah susu sebagaimana biasa. Kemudian aku datang membawa susu perahan itu dan berdiri di sisi kepala ayah ibuku. Aku tdk ingin membangunkan mereka berdua dari tidur dan aku pun tdk ingin memberi minum anak-anakku sebelum mereka berdua sementara anak-anakku menangis kelaparan di sisi kedua kakiku. Terus menerus demikian keadaanku dgn mereka hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa aku lakukan semua itu utk mengharap wajah-Mu berikanlah jalan keluar dari batu itu hingga kami dapat melihat langit.” mk Allah pun memberikan kepada mereka kelapangan hingga mereka dapat melihat langit kembali…”
Kisah ini menunjukkan gambaran keutamaan berbakti kepada kedua orang tua keutamaan melayani dan mendahulukan mereka berdua dari yg lain baik anak-anak istri dan selain mereka.
Bila demikian keadaan adakah hati orang tua yg tdk tergerak utk mendidik anak-anak mereka agar berbakti kepada ayah bundanya? Adakah orang tua yg akan membiarkan anak-anak mereka berkubang dlm kedurhakaan sehingga mendapati balasan yg nista? Tidakkah mereka ingin anak-anak mereka seperti gambaran seorang Abu Hurairah yg memberikan salam kepada ibunya:
عَلَيْكِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ يَا أُمَّتَاه ! تَقُوْلُ : وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، يَقُوْلُ : رَحِمَكِ اللهُ كَمَا رَبَّيْتِنِي صَغِيْرًا. فَتَقُوْلُ : يَا بُنَيَّ! وَأَنْتَ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا وَرَضِيَ عَنْكَ كَمَا بَرَرْتَنِي كَبِيْرًا.
“Keselamatan atasmu serta rahmah dan barakah Allah wahai Ibunda!” Ibu pun menjawab “Dan keselamatan pula atasmu serta rahmah dan barakah Allah.” Dia berkata lagi “Semoga Allah mengasihimu wahai Ibu sebagaimana engkau telah mendidikku semasa kecilku.” Ibu membalas “Wahai anakku! Dan engkau juga semoga Allah memberi balasan yg baik dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku pada masa tuaku.”
Betapa banyak kisah yg terhimpun dlm Kitabullah dan kalam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg dapat disampaikan kepada anak-anak yg berbicara tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan ancaman bagi seorang yg durhaka terhadap keduanya. Semogalah mereka memetik banyak faidah yg akan mendorong mereka utk mempersembahkan kebaikan kepada ayah bundanya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber: www.asysyariah.com

kalimantan barat

| | 0 komentar |
Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan Pontianak.

Secara geografis, Provinsi Kalimantan Barat terletak di antara 108º BT hingga 114º BT, dan antara 2º6' LU hingga 3º5' LS.

Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki propinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau.

Jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Barat menurut sensus tahun 2000 berjumlah 4.073.430 jiwa (1,85% penduduk Indonesia).
Sejarah

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Waterafdeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen.

Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Kondisi Alam

Iklim di kalimantan barat beriklim tropik basah, curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi pada bulan Januari dan Oktober suhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0.kelembapan rata-tara antara 80% s/d 90%

Suku Bangsa

Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Dayak,Melayu dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%.

    * Suku Dayak : (1) Rumpun Iban, (2) Rumpun Darat, (3) Rumpun Ot Danum, (4) Rumpun Punan, (5) Rumpun Apo Kaya
Bahasa

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat pula bahasa-bahasa daerah yang juga banyak dipakai seperti Bahasa Melayu, beragam jenis Bahasa Dayak, Menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka.

Bahasa Melayu di kalbar terdiri atas beberapa jenis, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Melayu Sanggau dan Bahasa Melayu Sambas. Bahasa Melayu Pontianak sendiri memiliki logat yang hampir mirip dengan bahas Melayu Malaysia dan Melayu Riau.                                                                                           sumber:http://www.id.indonesia.nl/content/view/195/89/                

kerusuhan dayak-madura kalbar 1997

| | 0 komentar |
MALAM Minggu, 22 Februari 1997, beberapa karyawan Kantor Wilayah Kehutanan Kalimantan Barat (Kalbar) dengan riang gembira bermobil dari Pontianak. Mereka akan menghadiri acara halalbihalal yang akan diadakan di Singkawang, hari Minggu pagi. Tak ada kekhawatiran apa-apa ketika mereka meninggalkan Pontianak. Sudah berulang kali aparat mengatakan: keadaan saat ini sudah aman.
Sekitar tengah malam, mereka haru meninggalkan Mempawah. Beberapa aparat keamanan menghentikan mobil. Mereka diminta tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke Pontianak. Ada kerusuhan kembali di Sungairuk yang terletak antara Mempawah dan Singkawang. Mereka pun terpaksa memutar haluan.
Kejadian itu menunjukkan kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura masih terus berlangsung, meskipun hanya secara sporadis. Tampaknya, itulah yang membuat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saat itu,Jendral R. Hartono tetap memerintahkan 3.000 personel ABRI dari Kalbar maupun Jakarta tetap bersiaga penuh di sana. Tapi, karena sekian aparat harus dibagi dalam empat kabupaten, kerap kali mereka kecolongan bila ada kerusuhan baru. Dengan adanya kerusuhan itu, ditambah letak daerahnya yang strategis bagi pertahanan, ABRI malah berniat menambah personel keamanan. "Satuan kaveleri, misalnya," ujar KSAD.
Penambahan personel keamanan memang amat dibutuhkan di provinsi yang luasnya lebih dari 146 ribu kilometer persegi itu (lebih besar sedikit dari Pulau Jawa plus Madura). Apalagi bila ada perkelahian massal di antara kedua etnis di atas yang sudah terjadi sejak tahun 1950 dan kali ini sudah terjadi delapan kali. Meski upacara adat Nyaru' Samangat -- upacara adat Dayak untuk mengembalikan semangat dari rasa ketakutan -- sudah diadakan di beberapa kecamatan, bukan tak mungkin pertikaian meledak kembali.
Kerusuhan kali ini, meski sempat dipotong jeda perdamaian, sudah berlangsung hampir dua bulan. Tak ada yang bisa, atau mau, menjelaskan berapa banyak kerugian yang sudah diderita kedua suku itu. Penyerbuan ke kompleks perumahan dan tempat penampungan warga Madura (di beberapa tempat terjadi sebaliknya) terjadi hampir setiap hari. Rumah-rumah dibakar dan penghuninya dihabisi. Media-media asing mengatakan: jumlah korban sampai ribuan. Adapun Asisten Pengamanan KSAD saat itu, Mayjen Zacky Anwar Makarim, hanya mengangguk ketika ditanya apakah jumlah korban sekitar 300 orang. "Almost the same, dari kedua belah pihak," ujar Makarim. Tapi, Pangab Feisal Tanjung bilang, jumlah korban masih dihitung, jangan sembarang menyebut jumlah.
Padahal, penyebab kerusuhan itu hanya masalah sepele ketika terjadi senggolan antarpemuda dalam arena joget di Sanggauledo, sekitar 235 kilometer dari Pontianak, pada 30 Desember 1996. Bakrie, anak pasangan Dayak dan Madura itu, tersinggung dan menclurit Yokundus dan Rakim, pemuda-pemuda Dayak hingga harus masuk rumah sakit. Teman-teman Yokundus mengamuk dan menyerang daerah transmigrasi sosial Lembang dan Marabu. Karena tak menemukan warga Madura yang sudah keburu mengungsi, mereka pun merusak dan membakar rumah-rumah dan menjalar dengan cepat ke empat kecamatan lain.
Gara-gara kerusuhan itu, ribuan rumah terbakar dan puluhan orang dikabarkan tewas. Yang lain mengungsi ke kota-kota lain atau masuk ke dalam hutan. Bagaimanapun, dengan ikrar perdamaian dan bantuan aparat keamanan, pertikaian itu bisa diredakan.
Kerusuhan itu memasuki babak kedua yang lebih seram dan berkepanjangan ketika pada 29 Januari 1997 ada pihak yang memanfaatkan momentum tersebut dengan merusak kantor dan koperasi Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) di Pontianak yang dimiliki oleh 30 subsuku Dayak. Dini hari, sekitar 35 orang bertopeng (ada yang bilang muka mereka ditutup kain seperti ninja, jadi bukan topeng) menyerang yayasan yang membawahi SMP dan SMU Santo Fransiskus Asisi itu.
Siapa dan bagaimana wujud manusia misterius itu? Berikut ini adalah cerita Verico Marcel dan Samuel Angkouw dari Forum Petaupan Katouwan Sulawesi Utara yang sedang mengikuti pemetaan partisipatif di Kantor YKSPK saat mereka menyerang. "Walau kami sudah mendengar isu Kantor YKSPK termasuk salah satu sasaran, tapi karena ada alat-alat yang kami butuhkan, pada 27 Januari kami menginap di sana," ujar mereka.
Dalam asrama itu ada 36 wanita dan enam laki-laki. Siswa laki-laki bergantian piket sampai pukul 03.00. Ketika mereka akan tidur, terjadilah pernyerbuan sekitar pukul 04.15. Ketika Verico yang tidur di rumah penjaga sekolah mengintip ke kantor, tampak api sudah membesar dari salah satu ruangan. Juga terdengar bunyi ledakan, pecahan kaca, dan teriakan "Bunuh... bunuh.... Mana mandau?"
"Ketika kami mengintip, tampak seorang lelaki sedang berjalan. Di tangannya ada jerigen putih ukuran lima liter. Lelaki itu berjaket jins, berambut pendek, dan bertubuh agak gempal. Ia tidak bertopeng, tapi raut wajahnya tidak jelas karena jarak kami cukup jauh," cerita Verico.
Manusia bertopeng itu juga menyerang sebuah rumah kos sehingga dua karyawati, Natalia dan Sena Eva, luka-luka. Beredar kabar: mereka meninggal dan kerusuhan pun meletup lagi. Kali ini, kerusuhan itu dalam intensitas yang lebih besar. Warga Dayak menyerang permukiman Madura. Sebaliknya, penduduk Madura pun melakukan serangan dalam bentuk lain. Mereka menyetop kendaraan yang menuju ke Sanggauledo. Kalau di antara penumpang itu ada warga Dayak, tak ada ampun, langsung diclurit. Lanun, seorang supir Kijang, dan penumpang bus bernama Djalan tewas akibat aksi yang terjadi pada akhir Januari lalu.
Namun, yang membuat kemarahan warga Dayak berkobar adalah insiden terbunuhnya Martinus Nyangkot dalam pencegatan yang dilakukan warga Madura di Desa Peniraman, pada 31 Januari 1997. Nyangkot adalah Kepala Desa Maribas, Kecamatan Tebas, yang juga ketua adat setempat. Kala itu, ia hendak pulang ke kampungnya bersama anaknya Maria Ulfa, yang baru saja diwisuda di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Maria, lulusan Fakultas Ekonomi Untan, bisa selamat dalam penyegatan tersebut.
Maka, kerusuhan pun marak di Kabupaten Sanggau, yaitu di Kota Sanggau, Sosok, dan Tayan. Di Kabupaten Pontianak, konflik terjadi di kecamatan Ngabang, Sengahtemila, Mandor, Toho, Mempawah Hulu, dan Sungai Pinyuh. Dengan mandau tergantung di pinggang, ratusan warga Dayak berkeliling dengan truk untuk membakar rumah; dan bila menemukan warga Madura langsung diserbu.
Meski pasukan Kostrad dari Jakarta ditambah, mereka yang sedang marah tak kenal takut. Mereka tetap mengejar warga Madura yang diungsikan ke asrama tentara. Terpaksa, aparat menembak pemuda Dayak yang ingin merangsek warga Madura di markas Kodim Sanggaukapuas. Insiden penembakan serupa terjadi di beberapa lokasi lain. Tak jelas, berapa korban yang jatuh.
Aparat keamanan memang bertindak keras, termasuk kepada Zainuddin Isman, koresponden Kompas di sana. Sejak 3 Februari Zainuddin, 41 tahun, ditahan karena dalam razia senjata tajam oleh aparat keamanan di Pontianak, ia menyimpan sebilah mandau dan pisau dalam mobilnya. "Padahal, itu mandau hiasan yang dibeli ketika ada orang berjualan di kantornya," kata pengacaranya Djafar Oesman. Kabarnya, calon anggota legislatif dari PPP, nomor 2, dari Kalbar, itu juga ditahan karena membuat kronologi kejadian yang dianggap bisa memanaskan keadaan. Penahanan untuk Zainuddin itu kini diperpanjang hingga 3 April.
Kerusuhan itu, tampaknya, membuat aparat terkesan bingung dan asal menuding pihak-pihak yang dicurigai. Termasuk di antaranya dua ulama kondang dari Madura, yang salah satu di antaranya pernah mengunjungi Kalbar untuk menenangkan warga Madura di sana. Namun, dalam pertemuan dengan KSAD itu, para ulama mengatakan isu tersebut dikipasi oleh seorang pedagang besar asal Madura yang tinggal di sana.
Kini, pihak-pihak Dayak dan Madura mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk mematuhi peraturan agar kerusuhan bisa reda. Di tengah upaya tersebut, terjadi lagi penyerbuan orang Dayak ke perkampungan Madura di Dusun Sekim I dan II, Desa Sungaikunyit Hulu, Kecamatan Sungaikunyit, 18 Februari 1997. Dengan bersenjata mandau, tombak, panah, dan senjata lantak, tewaslah 17 orang warga. Kali ini, aparat sigap. Sejumlah 68 pelaku dengan senjatanya bisa ditangkap dan oleh aparat digolongkan dalam 13 kategori tindak pidana. Beberapa perusuh masih muda usia, seperti Jisen, 13 tahun, yang oleh Komandan Kodim Mempawah Letkol Bambang Ismoyono kemudian dijadikan anak angkatnya.
"Kerusuhan di Sekim itu terjadi karena para perusuh belum mengetahui kalau kedua belah pihak telah menyatakan kebulatan tekadnya," tutus Pangdam VI Tanjungpura Mayjen Namoeri Anoem saat itu. Padahal, katanya, instansi terkait sudah berbuat yang terbaik untuk mengembalikan kondisi seperti semula, misalnya dengan menyebarluaskan informasi melalui edaran, selebaran, radio, maupun koran.
Hingga kini, upacara Nyaru' Samangat yang diharapkan bisa meredakan gelegak kemarahan warga sudah dilakukan di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Sungai Ambawang, Air Besar, Desa Maribas Kecamatan Tebas (tempat tinggal Martinus Nyangkot), dan pada hari Minggu lalu diadakan di Sungai Pinyuh. Disusul, pada hari Senin, di Mandor dan seterusnya. Sebagian orang pesimistis, sekadar ritual formal tak menyelesaikan masalah. Tampaknya, harus selalu ada pemantauan; dan masing-masing pemimpin etnis diharapkan untuk selalu bertemu. Mudah-mudahan.
Laporan Verrianto Madjowa dan Koresponden Pontianak
*)D&R, 1 Maret 1997,sumber: http://www.tempo.co.id/ang/min/01/53/nas5.htm